Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Anak Jadi Badut di Jalan, Dinsos Nunukan Imbau Tak Berikan Sumbangan

Asrullah RT • Kamis, 29 Januari 2026 | 21:04 WIB
Kepala Dinsos P3A Nunukan Farida Ariyani
Kepala Dinsos P3A Nunukan Farida Ariyani

NUNUKAN - Persoalan anak yang menggunakan kostum badut yang marak belakangan ini menjadi perhatian Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Nunukan. Agar aktivitas itu terhenti, Dinsos P3A Nunukan mengimbau masyarakat tidak memberikan sumbangan kepada anak yang beraktivitas sebagai badut jalanan.

Kepala Dinsos P3A Nunukan, Farida Ariyani mengatakan, jika masyarakat terus memberikan uang atau sumbangan dapat memperkuat praktik eksploitasi anak. Sebab, hal itu membuat mereka nyaman dan sulit untuk berhenti. "Sampaikan ke masyarakat, jangan sesekali memberikan sumbangan kepada mereka. Diberi bantuan boleh, tapi jangan sumbangan,” ucap Farida Ariyani.

Dijelaskan, fenomena anak badut dan pengemis di Nunukan bukan hal baru. Dinsos P3A Nunukan bahkan telah beberapa kali melakukan penanganan. Mulai dari kasus orang tua yang dengan sengaja menyuruh anaknya turun ke jalan untuk mendapatkan uang.

"Ini juga sudah pernah kami tangani. Orang tuanya menyuruh anaknya mencari uang, dan sudah pernah kami amankan," ungkapnya.

Menurutnya, praktik memberi uang meskipun nilainya kecil memang terlihat sepele. Namun, kondisi ini akan menimbulkan ketergantungan. Dimana, anak-anak akan terbiasa mendapatkan uang dengan cara meminta-minta atau mengemis.

"Sehingga tidak bersekolah dan sulit diarahkan kembali ke jalur yang semestinya. Misalnya, dikasih seratus, dikasih boneka. Lama kelamaan akan jadi kebiasaan. Dan jika tidak diberi sumbangan, akan hilang sendiri,” tegasnya.

Ia menegaskan, pemerintah daerah membuka ruang bantuan bagi anak-anak yang benar-benar membutuhkan. Seperti anak terlantar atau anak dari keluarga tidak mampu yang kesulitan biaya pendidikan. “Kalau memang tidak mampu sekolah, datang ke kantor. Kita bantu, peralatan sekolah. Karena, anak terlantar itu, jelas ada penanganannya,” tambahnya.

Baginya, solusi utama terkait ini ada pada kesadaran bersama untuk tidak memberikan uang di jalan. Sebab, meminta-minta seperti ini masuk kategori pengemis. “Kalau masyarakat berhenti memberi sumbangan, praktik seperti ini akan berhenti dengan sendirinya," pungkasnya. (akz/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#anak #dinsos #nunukan #badut