NUNUKAN - Program layanan jemput bola yang dilakukan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Nunukan setiap tahun tampaknya terhenti tahun ini. Layanan ini hanya dapat dijalankan di wilayah Sebatik.
Kepala Disdukcapil Nunukan, Agustinus Palentek menyampaikan sejumlah program yang dijalankan tahun sebelum tidak dilanjutkan tahun ini. Kondisi ini dikarenakan keterbatasan anggaran. Padahal, layanan jemput bola ini dinilai sangat efektif dan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, khususnya warga di daerah terpencil dan sulit akses transportasi.
“Kalau kami sebenarnya menginginkan setiap tahun pelayanan jemput bola ada di semua kecamatan, atau paling tidak di satu titik yang berdekatan dengan kecamatan lain. Namun, tahun ini anggarannya tidak mencukupi. Hanya Sebatik saja yang bisa,” ucap Agustinus Parlentek, Rabu (28/1).
Dijelaskan, usulan program telah diajukan dalam tahun anggaran berjalan dengan berbagai pertimbangan. Termasuk tingginya permintaan masyarakat dan kondisi geografis Nunukan.
“Permintaan jemput bola ini sebenarnya datang langsung dari kecamatan, tokoh masyarakat. Warga kita ini banyak yang tinggal jauh, di pulau, bahkan luar pulau. Idealnya pelayanan yang datang ke mereka, bukan sebaliknya. Tetapi, anggaran terbatas,” ungkapnya.
Ia mengungkapkan, Disdukcapil Nunukan pada tahun sebelumnya masih mampu menjangkau sejumlah wilayah perbatasan. Seperti Lumbis, Tulin Onsoi, hingga Krayan, meski hanya satu kali kunjungan dalam setahun untuk tiap wilayah. Dan tahun ini, kondisi anggaran membuat jangkauan itu terhenti.
"Karena jemput bola efektif bagi masyarakat yang benar-benar jauh dari jangkauan. Bahkan, selama setahun jemput bola ada ribuan yang kita urus Adminduk nya. Saya rasa masih banyak masyarakat disana yang membutuhkan lagi," bebernya.
Ia menegaskan, pelayanan jemput bola bukan sekadar urusan KTP elektronik. Tetapi, program ini mencakup hampir seluruh administrasi kependudukan. Mulai dari akta kelahiran, perkawinan, kematian, perubahan data, pindah penduduk, sampai penambahan anggota keluarga di KK.
Baginya, jika layanan jemput bola tidak dapat menjangkau daerah terpencil, masyarakat harus datang kantor Disdukcapil. Bagi masyarakat yang bermukim di wilayah IV, biaya transportasi begitu besar untuk sampai ke kota. “Kalau dari luar pulau, biayanya mahal. Pelayanan kami gratis, tapi ongkos pulang-pergi itu yang besar," pungkasnya. (akz/jnr)
Editor : Januriansyah RT