Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Petakan Permasalahan di Perbatasan Kaltara melalui Community Development International

Asrullah RT • Rabu, 14 Januari 2026 | 13:10 WIB

 

AUDIENSI : Rombongan Airlangga Institute of Indian Ocean Crossroads (AIIOC), Universitas Airlangga saat bertemu Wakil Bupati Nunukan, Hermanus, Selasa (13/1).   
AUDIENSI : Rombongan Airlangga Institute of Indian Ocean Crossroads (AIIOC), Universitas Airlangga saat bertemu Wakil Bupati Nunukan, Hermanus, Selasa (13/1).  

NUNUKAN – Airlangga Institute of Indian Ocean Crossroads (AIIOC), Universitas Airlangga melaksanakan audiensi bersama Wakil Bupati Nunukan, Hermanus. Kehadiran, akademisi ini bertujuan melaksanakan program Community Development International di Pulau Sebatik.

Direktur AIIOC, Universitas Airlangga, Lina Puryanti menyampaikan Universitas Airlangga berencana akan melaksanakan program Community Development International di Pulau Sebatik. Kegiatan ini bermitra dengan Pemerintah Kabupaten Nunukan, Universitas Borneo Tarakan dan Universitas Johor.

Menurutnya fokus Bahari di Pulau Sebatik dipilih karena sangat dekat dengan kehidupan masyarakat perbatasan Indonesia – Malaysia serta wilayah Sebatik merupakan wilayah strategis dari sisi kedaulatan dan kesejahteraan. “Oleh karena itu kunjungan kali ini bertujuan memetakan permasalahan daerah sebagai dasar penyusunan program”, singkatnya.

Dalam pelaksanaannya nanti, lanjutnya program akan dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama Community Development DAPT-EQUITY (fokus Sebatik), dan tahap 2 ACDH.

“Untuk Fokus kegiatan ini adalah peningkatan pengolahan pangan hasil perikanan, transformasi teknologi perikanan dan nelayan (GPS, radio, security & safety), pengembangan jaringan distribusi dan pasar, youth engagement (menarik generasi muda berbasis modern fisheries), optimalisasi budidaya rumput laut dan UMKM, edukasi cara tangkap yang ramah lingkungan," benernya.


Dalam pelaksanaan program ini, Universitas Airlangga akan melibatkan 4 Fakultas dan 1 Pascasarjana. Pada pelaksanaannya, beberapa hal akan dilakukan. Seperti, pertemuan antara akademisi, nelayan dan pemuda lokal untuk pertukaran pengetahuan serta eksplorasi inovasi pengolahan produk perikanan sederhana.


"Kemudian, lokakarya kolaboratif bersama dengan komunitas lokal serta mitra nasional dan Internasional dan kegiatan pendokumentasian pengetahuan lokal tentang Bahari," pungkasnya.

Melalui pertemuan itu, Pemkab Nunukan menyampaikan terima kasih dan apresiasinya. Sebab, pembangunan daerah khususnya di wilayah perbatasan memerlukan keterlibatan ekstra dari akademisi dengan berbagai kajian akademiknya.

"Hal ini perlu dilakukan sebagai wujud keseriusan pembangunan dan tidak terkesan 'tiba masa tiba akal'," ucap Wakil Bupati Nunukan Hermanus.

Dijelaskan, pembangunan Kabupaten Nunukan membutuhkan berbagai masukan dan pertimbangan. Khususnya, terkait keterbatasan akses, keberlanjutan pendidikan dan lain sebagainya. Dan Kabupaten Nunukan sebagai wilayah perbatasan memiliki geografis yang cukup luas. Sehingga, memerlukan pendekatan pembangunan yang tepat, dan bukan sekedar insentif. Termasuk aktifitas perekonomian yang telah tumbuh secara alami bahkan sebelum daerah ini berdiri berstatus kabupaten.

“Aktivitas ekonomi di Kabupaten Nunukan tumbuh secara alami sejak sebelum daerah ini berdiri, sehingga relatif sulit diubah. Masyarakat perbatasan, khususnya dengan Tawau, Malaysia memiliki kesamaan budaya dan bahasa yang menyebabkan ketergantungan ekonomi," jelasnya.

Karena itu, ia berharap kehadiran Universitas Airlangga dengan berbagai programnya dapat melahirkan rekomendasi untuk terwujudnya kebijakan oleh pemerintah pusat untuk mendorong berkembangnya aktivitas perekonomian perbatasan.

Ia juga berharap agar pembangunan wilayah perbatasan seperti di Nunukan dan Tawau dapat dilihat dari perspektif persamaannya dan bukan dari perbedaannya. “Sebab, jika dilihat dari perbedaannya, maka akan banyak permasalahan yang didapatkanetapi bila dilihat dari berbagai kesamaannya maka akan ada kesepakatan dan kerjasama, mungkin semacam Sister City dan lain sebagainya," ungkapnya.


Kemudian, ia berpesan melalui program penelitian yang akan dilakukan Universitas Airlangga di Kabupaten Nunukan, khususnya di Pulau Sebatik, penelitian dan program yang dilaksanakan juga dapat melihat keterikatan sosial, budaya dan ekonomi antara masyarakat Nunukan dan Tawau. (akz/jnr)

 

 

Editor : Januriansyah RT
#perbatasan #kaltara #nunukan #sebatik