Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Pasar Murah Perdana Digelar di Patok Perbatasan RI-Malaysia Sebatik

Riko Aditya • Selasa, 16 Desember 2025 | 16:29 WIB

 

SASAR PERBATASAN: Pasar murah juga telah hadir di wilayah perbatasan Indonesia Malaysia tepatnya di Patok Batas Perbatasan di Sebatik.
SASAR PERBATASAN: Pasar murah juga telah hadir di wilayah perbatasan Indonesia Malaysia tepatnya di Patok Batas Perbatasan di Sebatik.
NUNUKAN - Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan (DKUKMPP) Nunukan memperluas pelaksanaan pasar murah hingga ke wilayah perbatasan Sebatik, dimana untuk pertama kalinya, pasar murah digelar di Patok Batas perbatasan Indonesia-Malaysia di Pulau Sebatik.
Itu dilakukan sejatinya untuk memudahkan masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau dalam menghadapi Natal dan Tahun baru (Nataru).
Kepala Bidang Perdagangan DKUKMPP Nunukan, Dior Frames mengatakan, pasar murah di kawasan perbatasan merupakan bagian dari program pengendalian harga dan pemerataan distribusi barang kebutuhan pokok.
Selama ini, kegiatan serupa telah berjalan sejak November 2025 di sejumlah kecamatan di Kabupaten Nunukan, dan kini diperluas hingga wilayah perbatasan. “Pasar murah ini sudah kami jalankan sejak November di beberapa wilayah. Untuk Sebatik, kami hadir di beberapa titik dan sore ini kami coba untuk pertama kalinya di patok batas. Ini perdana kami laksanakan di kawasan perbatasan,” kata Dior ketika diwawancarai, Selasa (26/12).

Photo
Photo

Menurutnya, pelaksanaan pasar murah di Sebatik dilakukan di beberapa lokasi strategis, seperti Kampung Lodres, Kecamatan Sebatik Tengah, serta patok batas RI-Malaysia. Penentuan titik tersebut mempertimbangkan aktivitas dan kebutuhan masyarakat setempat agar manfaat kegiatan dapat dirasakan secara maksimal. “Kami memilih titik-titik yang memang banyak aktivitas masyarakat. Di Sebatik, salah satunya di Kampung Lodres dan sekarang kami hadir langsung di Patok Batas untuk melihat animo masyarakat terhadap produk Indonesia,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, DKUKMPP membawa berbagai kebutuhan pokok dengan jumlah hampir satu ton atau setara satu unit mobil pick up penuh. Barang-barang yang dibawa disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, terutama bahan pangan dan kebutuhan rumah tangga sehari-hari. “Barang yang kami bawa itu hampir satu pick up penuh, kurang lebih mendekati satu ton. Isinya memang kami sesuaikan dengan kebutuhan masyarakat,” jelas Dior.
Sejumlah komoditas dijual dengan harga dibawah pasaran. Tepung terigu merek Segitiga Biru dijual seharga Rp 13.000 per kilogram, sementara di pasar bebas mencapai sekitar Rp 17.000. Minyak goreng Indonesia dijual Rp 19.000 per liter, dibanding harga pasar yang berkisar Rp 22.000. Selain itu, sirup dijual Rp 12.000 per botol, kopi Rp 11.000, serta beras SPHP kemasan 5 kilogram seharga Rp 63.000. “Kalau di pasar bebas, tepung Segitiga Biru itu bisa sampai Rp 17 ribu, di pasar murah kami jual Rp 13 ribu. Minyak goreng Indonesia di pasaran sekitar Rp 22 ribu, di kami Rp 19 ribu. Jadi selisih harganya lumayan,” terang Dior.
Dior menambahkan, seluruh harga yang ditetapkan merupakan harga gudang yang langsung didistribusikan ke lokasi pasar murah, sehingga biaya distribusi dapat ditekan dan harga jual ke masyarakat lebih rendah. “Harga-harga ini memang harga gudang. Kami langsung antar ke titik-titik pasar murah supaya masyarakat bisa mendapatkan harga yang lebih terjangkau,” ungkapnya.
Selain di Sebatik, pasar murah DKUKMPP juga telah digelar di wilayah Sebuku Tulin Onsoi, Sembakung Atulai, dan Lumbis, masing-masing dua kali di lokasi yang berbeda. Kegiatan serupa juga dilaksanakan di Alun-Alun Nunukan serta sejumlah kampung lainnya dalam rangka menjaga stabilitas harga dan ketersediaan barang kebutuhan pokok menjelang Natal dan Tahun Baru.
“Kami berharap masyarakat perbatasan dapat lebih mudah mengakses kebutuhan pokok dengan harga yang wajar, sekaligus mendorong penggunaan produk Indonesia di wilayah perbatasan,” Beber Dior. (raw/lim)

Editor : Azward Halim