Mayoritas permukiman di Sembakung terletak jauh dari pusat layanan kesehatan, sehingga jalur sungai menjadi satu-satunya akses transportasi. Dalam banyak kasus, pasien gawat darurat harus menempuh perjalanan panjang dengan perahu kecil, terutama saat sungai pasang, arus deras, atau cuaca buruk.
“Sering kali masyarakat terlambat mendapat pertolongan karena tidak ada armada khusus untuk membawa pasien,” ujar Suni, tenaga kesehatan di Puskesmas Desa Atap. Ia menambahkan, kondisi ini menyulitkan penanganan pasien stroke, ibu hamil, atau warga dengan kondisi kritis yang membutuhkan rujukan cepat.
Ambulans air yang kini tersedia dilengkapi ruang pasien, peralatan keselamatan, dan fasilitas untuk penanganan awal selama perjalanan. Keberadaan armada ini mempermudah evakuasi dari desa-desa terpencil ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap dengan lebih cepat dan aman.
“Kalau sebelumnya kami harus menunggu perahu warga, sekarang petugas bisa langsung bergerak begitu laporan masuk. Waktu tempuh pun lebih singkat,” ungkap Suni.
Anggota DPRD Kabupaten Nunukan, Said Hasan, yang mendorong pengadaan ambulans air melalui pokok pikirannya, mengatakan kebutuhan ini sudah lama muncul dari aspirasi warga. Menurutnya, karakter geografis Sembakung yang didominasi jalur sungai membuat ambulans air menjadi kebutuhan dasar, bukan fasilitas tambahan.
“Masyarakat di tepian sungai harus memiliki sarana transportasi medis yang layak. Dengan armada ini, proses evakuasi bisa lebih cepat, aman, dan terarah,” kata Said. Ia menegaskan bahwa langkah ini diharapkan menjadi awal perbaikan menyeluruh terhadap fasilitas kesehatan di wilayah sungai dan daerah perbatasan.
Dengan hadirnya ambulans air, Puskesmas kini lebih siap merespons laporan darurat tanpa harus mencari perahu bantuan dari warga. Perubahan ini menjadi peningkatan signifikan dalam pelayanan publik, terutama bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat kecamatan. Diharapkan, kehadiran ambulans air dapat mengurangi risiko kematian akibat keterlambatan rujukan dan memberikan rasa aman bagi warga Sembakung. (raw/lim)
Editor : Azward Halim