NUNUKAN - Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Nunukan memastikan penanganan lanjutan terhadap sembilan pelajar SMP yang sebelumnya ditemukan muntah dan pusing akibat dugaan penggunaan liquid vape mengandung THC dan obat penenang.
Seluruh langkah penanganan kini difokuskan pada pemulihan, pembinaan intensif, serta penyelamatan masa depan pendidikan para siswa.
Kepala BNNK Nunukan, Anton Suriyadi Siagian mengungkapkan, dari hasil rapat diputuskan bahwa delapan dari sembilan pelajar akan menjalani program penempatan khusus di dinas yang menangani dalam hal ini Dinas Pendidikan (Disdik) Nunukan.
Program dirancang agar pembinaan berlangsung lebih terarah tanpa menghilangkan hak belajar mereka.
“Ya, penempatan khusus ini tidak menghilangkan program belajar mengajar, anak-anak tetap mengikuti pelajaran, hanya saja pada hari Jumat mereka mengikuti pembinaan bersama BNN dan instansi terkait,” jelas Anton ketika ditanyakan perkembangan kasus tersebut, Senin (1/12).
Penempatan khusus ini juga bertujuan memisahkan sementara para siswa dari lingkungan sekolah untuk mencegah penyebaran pengaruh buruk dan memberikan ruang pemulihan perilaku.
Dinas Pendidikan saat ini juga sedang menyiapkan lokasi khusus yang aman dan kondusif bagi delapan siswa tersebut.
Sementara program pembinaan tersebut direncanakan berlangsung tiga bulan dengan pola pengawasan ketat. Guru, kepala sekolah, dan petugas BNN akan terlibat langsung dalam memantau perubahan perilaku dan kedisiplinan anak-anak tersebut.
“Pengawasan akan intens. Setelah tiga bulan, kita lihat bagaimana perubahan mereka. Jika signifikan, mereka bisa dikembalikan ke sekolah,” ungkap Anton.
Sayangnya, satu siswa terpaksa dikeluarkan dari sekolah karena telah berulang kali melakukan pelanggaran serupa. Kebijakan ini diambil untuk mencegah dampak buruk bagi siswa lain.
“Sudah pernah diperingatkan, tetapi tidak ada perubahan. Kami tidak ingin ini menjadi virus di sekolah,” tegas Anton.
Anton huga menegaskan, bahwa penanganan terhadap para siswa ini menitikberatkan pada pemulihan, edukasi, dan penyelamatan masa depan, bukan pada hukuman pidana.
Meski terdapat indikasi penggunaan narkotika, BNNK tidak dapat memproses hukum karena liquid yang digunakan para siswa sudah habis sehingga tidak ditemukan barang bukti fisik.
Kasus ini pertama kali terungkap pada Senin (24/11) ketika guru menemukan sembilan pelajar dalam kondisi tidak normal. Para siswa mengeluhkan muntah dan pusing, hingga akhirnya guru Bimbingan Konseling melaporkan ke pihak sekolah dan BNNK Nunukan.
Setelah pendalaman awal dan wawancara dengan guru serta siswa, satu murid mengakui telah menggunakan liquid vape sebelum merasa sakit.
BNNK Nunukan kemudian melakukan tes urine yang menunjukkan indikasi kuat adanya kandungan THC dan benzo di tubuh para siswa. (raw)
Editor : Azwar Halim