NUNUKAN - Upaya mengurangi ketergantungan pasokan hortikultura atau (ilmu dan seni budidaya intensif tanaman sayuran, buah-buahan, bunga, dan tanaman obat atau biofarmaka) dari luar daerah, kembali menjadi pekerjaan besar bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nunukan.
Meski program Kampung Hortikultura terus berjalan, gejolak harga terutama pada komoditas cabai masih menjadi tantangan yang belum sepenuhnya teratasi. Cabai sebagai komoditas paling sensitif masih menjadi penyumbang utama naik-turunnya harga kebutuhan dapur di pasar Nunukan.
Masuknya cabai murah dari luar daerah membuat harga sering jatuh, namun ketika suplai luar berkurang, harga lokal kembali melonjak.
Kepala Bidang Pangan DKPP Nunukan, Sambio, menyebut kondisi itu sebagai pola yang berulang setiap tahun, terlepas dari upaya peningkatan produksi melalui kampung hortikultura. Menurutnya, pengelolaan budidaya di tingkat petani menjadi faktor penting yang belum merata.
“Ya, tahun ini pemerintah memusatkan pembukaan lahan cabai di delapan titik dengan total delapan hektar. Selain cabai, program juga menyasar pisang dan durian di Sebatik, sementara semangka dan melon dikembangkan di Nunukan serta Tulin Onsoi,” ujarnya kepada wartawan.
Sementara bantuan benih dan pupuk untuk petani telah selesai disalurkan. Pendampingan penyuluh menjadi tahapan berikutnya sebelum petani melakukan penanaman serentak. Panen cabai diperkirakan dapat dilakukan awal tahun depan.
Menurut Sambio, banyak petani pemula belum memiliki pemahaman manajemen budidaya yang baik. Tanaman semusim seperti semangka dan melon rentan gagal ketika petani salah menentukan jadwal tanam atau pengelolaan air.
Sementara biaya produksi yang tinggi, semangka bisa mencapai Rp. 40 juta per hektare, membuat petani tak bisa sembarangan mengambil risiko.
Dirinya juga menyoroti pola tanam yang tidak terkoordinasi. Ketika banyak petani menanam bersamaan, produksi melimpah dan harga jatuh. Sebaliknya, ketika tidak ada yang menanam, pasar kosong dan harga melonjak.
DKPP Nunukan pun menyiapkan pendampingan lebih intensif dan penataan zonasi hortikultura agar produksi lebih teratur. Beberapa komoditas seperti semangka dan sayur daun relatif stabil menyuplai pasar lokal.
“Namun cabai tetap menjadi komoditas paling sulit dikendalikan akibat cuaca basah Nunukan dan tekanan harga dari pasokan luar,” ungkap Sambio.
Program Kampung Hortikultura bukan hanya soal meningkatkan produksi, tetapi juga mengatur ritme tanam dan memperkuat manajemen budidaya di tingkat petani. Selama ketergantungan pasokan luar masih tinggi, stabilitas harga di Nunukan tetap berada dalam posisi rentan.
“Begitu cabai dari luar masuk dengan harga rendah, pasar lokal langsung goyah. Ini yang terus kami benahi,” beber Sambio. (raw)
Editor : Azwar Halim