Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Harga Bahan Pokok di Nunukan Mengalami Fluktuasi, Cabai Naik Jadi Rp50 Ribu

Riko Aditya • Senin, 13 Oktober 2025 | 14:33 WIB

 

DOK RADAR TARAKAN  HARGA FLUKTUASI: Harga cabai di Nunukan disebut terus mengalami fluktuasi, namun begitu harga masih terbilang terjangkau
DOK RADAR TARAKAN HARGA FLUKTUASI: Harga cabai di Nunukan disebut terus mengalami fluktuasi, namun begitu harga masih terbilang terjangkau
 

NUNUKAN - Harga sejumlah bahan pokok di Nunukan mengalami fluktuasi dalam sepekan terakhir, seperti halnya cabai yang sebelumnya berada di kisaran Rp. 40 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp. 50 ribu.

Kenaikan ini terjadi akibat keterbatasan pasokan dari daerah asal serta situasi pengiriman yang tidak stabil.

Kepastian itu disampaikan Pengawas Perdagangan Ahli Muda Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Nunukan, Abdul Rahman ketika ditanyakan kondisi harga bapok dalam beberapa pekan terakhir.

Dirinya mengungkapkan, bahwa cabai menjadi komoditas yang paling menunjukkan kenaikan signifikan.

“Karena kita bukan daerah penghasil, kalau harga di daerah asal naik, otomatis di sini mengikuti. Kenaikan ini bukan dari pedagang lokal, tetapi dari asalnya sudah naik,” ujar Rahman kepada wartawan, Senin (13/10).

Pasokan cabai di Nunukan bergantung pada pengiriman dari Sulawesi. Rahman menyebutkan bahwa suplai yang menurun dan keterlambatan kapal membuat harga bergejolak. Namun, ia berharap pasokan kembali stabil dalam waktu dekat.

“Hari ini ada kapal yang membawa cabai dari Sulawesi. Mudah-mudahan stok bertambah dan harga bisa turun,” tambahnya.

Selain cabai, harga beras turut terdampak. Menurut Rahman, hasil panen di Sulawesi yang menurun mempengaruhi distribusi. Selain itu, sebagian besar beras kini terserap ke Bulog sehingga stok untuk pasar umum terbatas.

Untuk telur ayam, harga bervariasi tergantung ukuran. Saat ini telur dijual dengan kisaran Rp. 50 ribu hingga Rp. 70 ribu per rak. Suplai sebagian didatangkan dari Sulawesi melalui seorang pedagang yang rutin memasok hingga 4.000 piring per minggu.

“Stok telur cukup, hanya saja harga dipengaruhi ukuran dan jenis. Telur lokal juga ada tapi tidak dalam jumlah besar,” ungkap Rahman.

Rahman pun menghimbau masyarakat agar tidak melakukan pemborongan berlebihan yang dapat memicu lonjakan harga. 

Para pedagang lokal disebut telah berpengalaman mengelola pasokan di daerah perbatasan. Dengan koordinasi yang baik, mereka diharapkan dapat menjaga ketersediaan barang sambil menyesuaikan dengan dinamika harga dari daerah asal.

“Selama kapal lancar, barang tetap ada. Yang perlu kita hindari adalah panic buying. Kalau pasokan stabil, harga pasti bisa terkendali,” tegasnya.

“Kita sudah cukup paham kondisi perbatasan. Pedagang di sini sudah handal dalam mendatangkan barang,” tambah Rahman. (raw)

Editor : Azwar Halim
#kaltara #harga bahan pokok #nunukan #fluktuasi