Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Nunukan Hanya Mampu Kelola 30 Persen Sampah, Sisanya Masih Bertumpu pada TPA

Riko Aditya • Minggu, 24 Agustus 2025 | 19:17 WIB
DOK DLH NUNUKAN ILUSTRASI SAMPAH: DLH Nunukan klaim 70 persen sampah Nunukan, masih berakhir di Tempat Pembuangan Akhir, hanya 30 persen yang bisa diolah ulang
DOK DLH NUNUKAN ILUSTRASI SAMPAH: DLH Nunukan klaim 70 persen sampah Nunukan, masih berakhir di Tempat Pembuangan Akhir, hanya 30 persen yang bisa diolah ulang

NUNUKAN - Kabupaten Nunukan setiap hari menghasilkan 15–20 ton sampah, namun baru sekitar 30 persen yang berhasil diolah langsung di sumbernya. Sisanya, 70 persen, masih berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Kondisi ini membuat Dinas Lingkungan Hidup (DLH) berupaya memperkuat sistem pengelolaan sampah agar ketergantungan terhadap TPA bisa berkurang.

Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan pada DLH Nunukan, Muhammad Irfan, menjelaskan pengolahan sampah di tingkat sumber terus digalakkan melalui bank sampah atau Tempat Pengelolaan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) hingga komposter rumah tangga.

“Sampah yang bisa dikelola akan diolah langsung. Hanya residu yang masuk TPA. Harapan kami, volume yang bisa ditangani di awal semakin besar,” ujarnya.

Sejumlah inovasi lahir dari program ini, di antaranya daur ulang sampah plastik menjadi paving block, pelampung, hingga komposter organik.

Beberapa bank sampah yang aktif bergerak di Nunukan antara lain Bank Sampah Unit Karya Bersama, Borneo Bersinar, Nunukan Clean, serta Bank Sampah Lanuka di Lapas Nunukan.

“Hampir semua jenis sampah plastik bisa dijadikan bahan dasar paving block. Bahkan di Lapas, mereka sudah memproduksi paving dari plastik dan mengolah komposter,” tambah Irfan.

Selain mengurangi timbulan sampah ke TPA, bank sampah juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Sampah plastik yang dikumpulkan melalui kerja bakti lintas sektor didaur ulang menjadi produk bernilai guna, sekaligus memperpanjang umur operasional TPA.

Namun, Irfan mengakui masih ada tantangan besar, terutama keterbatasan alat pengolahan di unit bank sampah.

Karena itu, dukungan dari BUMN, BUMD, hingga perusahaan swasta lewat program CSR dinilai sangat penting.

“Beberapa perusahaan sudah membantu mesin press, mesin pencacah plastik, hingga cetakan paving block. Tapi kebutuhan alat masih banyak agar pengelolaan sampah bisa lebih maksimal,” jelasnya.

Pihaknya menegaskan penguatan pengelolaan di tingkat sumber adalah kunci. Dengan cara itu, TPA tidak cepat penuh dan masalah sampah di Nunukan bisa ditangani lebih berkelanjutan.

“Semua sampah yang masih bisa dikelola harus diolah dulu di bank sampah atau TPS3R. Hanya residu yang masuk TPA. Itulah strategi agar umur TPA bisa lebih panjang,” tutup Irfan. (raw)

Editor : Azwar Halim
#kaltara #nunukan #tpa #limbah sampah