NUNUKAN - Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap dilaksanakan di bulan Ramadan. Pelajar nantinya akan diberikan makanan ringan seperti takjil yang bisa dibawa pulang dan dikonsumsi untuk berbuka puasa.
Itu sesuai petunjuk teknis (juknis) yang dikeluarkan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk pelaksanaan program MBG di Bulan Ramadhan 1446 H. Para pelajar pun baru akan menikmati MBG di Minggu pertama ramadan tepatnya di tanggal 6 Maret mendatang, sesuai jadwal masuk para pelajar masing-masing sekolah.
Itu dipastikan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Kecamatan Nunukan, Sulaimana ketika dikonfirmasi perihal MBG di bulan ramadan. Dirinya mengaku, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Nunukan tentu akan mengikuti juknis BGN.
“Jadi anjurannya itu, MBG di ramadan boleh roti, boleh berupa biskuit, susu kotak, telur 1 buji, termasuk telur puyuh ya jadi bisa sebanyak 4 biji telurnya, kemudian kurma dan susu kotak,” ujar Sulaimana ketika dikonfirmasi, Minggu (2/3).
Sulaimana menerangkan, makanan ringan tersebut, mempetimbangkan agar makanan yang dibawa pulang para pelajar penerima MBG, tidak mudah basi dan bisa dibawa pulang untuk digunakan berbuka puasa.
Disatu sisi, hal yang saat ini menjadi catatan adalah, SPPG dianjurkan menyediakan menu tersebut dalam tote bag atau tas jinjing. Tidak hanya itu, persoalan persediaan susu juga menjadi catatan.
“Ya, dianjurkan menggunakan tas jinjing, nanti penerima MBG membawa wadah dari rumah, dan disalin ke wadah masing masing penerima,’’ kata Sulaimana.
Penggunaan tas jinjing tentu akan berdampak ke menu MBG. Itu karena tas jinjing di Nunukan masih belum banyak dijual, dan kalaupun ada, harganya berkisar antara Rp 3.000 sampai Rp 5.000 per pcs. Harga tersebut pun, tentu bisa mengurangi isian menu yang dianjurkan, apalagi harga per menu ditentukan seharga Rp 15.000 per menu.
Termasuk kekhawatiran akan tersedianya susu di Nunukan. Untuk Nunukan saja, penerima MBG ada sebanyak 3.335 orang anak penerima. Jumlah susu yang harus tersedia setiap harinya, tentu juga harus sebanyak 3.335 unit.
“Itu juga masih kami bahas dan mempertimbangkan untuk segera dilaporkan ke BGN, karena susu apakah stoknya bisa ready setiap hari, ini masih harus dipastikan. Kita semua tahu Nunukan perbatasan dan memiliki keterbatasan dalam pengiriman dan stok barang kan,” beber Sulaimana. (raw)
Editor : Azwar Halim