Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Masih Ada 555 Anak Tidak Sekolah

Azwar Halim • Kamis, 24 Februari 2022 | 14:29 WIB
JEMPUT BOLA: Atasi anak putus sekolah, Dinas Pendidikan jemput bola ke tempat anak-anak putus sekolah memberikan pembelajaran layaknya di sekolah. FOTO: DOKUMENTASI DINAS PENDIDIKAN
JEMPUT BOLA: Atasi anak putus sekolah, Dinas Pendidikan jemput bola ke tempat anak-anak putus sekolah memberikan pembelajaran layaknya di sekolah. FOTO: DOKUMENTASI DINAS PENDIDIKAN
NUNUKAN - Dinas Pendidikan (Disdik) Nunukan memastikan masih ada ratusan anak tidak sekolah (Ats) tersebar di seluruh kecamatan di Nunukan. Ats tersebut,  sudah termasuk anak putus sekolah (Apts) yang juga terdata di Nunukan.

Dari data Disdik  Nunukan, setidaknya masih ada 555 orang Ats se-Kabupaten Nunukan. Banyak faktor yang menyebabkan itu terjadi seperti, ekonomi sampai terdampak Covid-19 yang baru-baru saja terjadi. Dari sekian persen anak tidak sekolah tersebut, ada beberapa anak yang berada di tempat mengikat rumput laut.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Dikdas) pada Disdik Nunukan, Widodo mengatakan, sebenarnya tidak karena hanya faktor ekonomi saja. Namun juga kepada komitmen orang tua yang memotivasi anaknya untuk sekolah, juga terbilang menjadi faktornya. “Kalau karena ekonomi ya itu memang sudah sangat jelas, ada yang terdampak Covid-19, namun juga ada dikarenakan kecacatan, dalam arti cacat fisik dan sebagainya, itu terdata namun mereka tidak sekolah,” ujar Widodo kepada sejumlah awak media, Rabu (23/2).

Bahkan dikarenakan pandemi Covid-19, anak pada jenjang pendidikan SMP sampai ada yang dinikahkan orang tuanya karena terlihat tidak sekolah, terutama pada anak perempuan. Hal itu terjadi di Nunukan. “Kasus itu pernah dilaporkan tenaga muda pengajar Indonesia mengajar dari pusat yang ditugaskan di sini (Nunukan) di wilayah Sebuku. Mereka punya binaan, anak tersebut padahal pintar, anak padahal mau sekolah, tapi karena ada yang melamar, pihak orang tua mau, akhirnya lulus SMP langsung menikah,” ungkap Widodo.

Menangani kasus Apts, Disdik sejatinya punya strategi untuk mengatasi salah satunya seperti adanya pendidikan di luar sekolah, seperti jemput bola kepada anak-anak pabentang yang bekerja sebagai mengikat rumput laut mengikuti orang tuanya. Sejatinya itu dilakukan untuk mengatasi anak-anak yang sudah mengenal uang, misalnya anak SD kelas VI, dikarenakan sudah tau uang, akhirnya tidak sekolah. Program jemput bola tersebut, jadi solusinya.

“Itu gurunya yang kita datangkan, mengajar ke sana (tempat mengikat rumput laut) diajarkan sampai selesai, hingga tetap mendapatkan ijazah. Mereka ini kan sebenarnya keteteran waktunya karena kerja, akhirnya malas berhenti, itulah salah satu strategi kami jemput bola,” jelas Widodo.

Sementara dari segi persoalan ekonomi, Disdik juga ada program pemenuhan standar pelayanan minimal (SPM). Misalnya bantuan buku tulis, hingga adanya bantuan dari pusat program Indonesia pintar. Belum lagi PKBM pendidikan luar sekolah yang sudah banyak tersebar di semua kecamatan di Nunukan. “Ya, jadi sekarang tinggal meningkatkan komitmen anak-anak dan orang tua, itu sebenarnya PR yang harus dikerjakan. Meningkatkan motivasi mereka untuk sekolah, orang tua harus dorong anaknya untuk sekolah, karena semua program sudah kami sentuh,” kata Widodo.

“Seperti haknya pelayanan pendidikan kami dekatkan, kebijakan merdeka belajar, lulus tidaknya tergantung sekolah sudah diterapkan, sekarang tidak ada alasan lagi. Sekarang pendidikan itu bukan hanya untuk anaknya, tapi juga untuk orang tuanya, harus sinergi,” tambah Widodo mengakhiri. (raw/lim)

 

  Editor : Azwar Halim
#sekolah