NUNUKAN – Program Bebas Prostitusi 2019 yang dicanangkan Kementerian Sosial (Kemensos) memberikan dampak positif bagi masyarakat Indonesia. Khususnya dalam mencegah eksploitasi seksual dan aktivitas perdagangan manusia. Demikian pula yang terjadi di Kabupaten Nunukan.
Penutupan lokalisasi di Jalan Persemaian, Kelurahan Nunukan Tengah diharapkan menjadi langkah awal pencegahan tindakan asusila dan aktivitas seksual yang selama ini masih terjadi secara terselubung. Sebab, penutupan lokalisasi dikhawatirkan justru membuka peluang prostitusi terselubung yang melibatkan remaja usia sekolah.
Sekretaris Dinas Sosial (Dinsos) Nunukan Yaksi Belanning Pratiwi mengaku khawatir munculnya prostitusi terselubung pasca penutupan lokalisasi tersebut. Sebab, hal itu akan memicu upaya adanya aktivitas ‘bisnis lendir’ di kalangan masyarakat. Khususnya bagi remaja di Kabupaten Nunukan.
“Khawatir juga ada begitu. Waktu masih buka (lokalisasi) saja banyak terselubung. Parahnya, banyak usia pelajar juga. Apalagi nanti kalau lokalisasi sudah tutup,” kata Yaksi, sapaan akrabnya kepada media ini saat ditemui usai memantau kegiatan pembinaan mental kepada puluhan wanita tuna susila (WTS) di Jalan Persemaian, Kelurahan Nunukan Tengah belum lama ini.
Ia mengaku, kekhawatiran tersebut bukan tanpa sebab. Ia mengaku pernah menemukan seorang pelajar yang sedang melakukan aksinya mendapatkan pria hidung belang. Saat itu, di salah satu persimpangan lampu merah yang ada di Kecamatan Nunukan, kendaraan yang digunakan dihentikan. “Perempuan itu masih usia pelajar di salah satu SMP negeri. Ia mengaku melakukan itu karena tuntutan gaya hidup. Mau beli ponsel terbaru,” ungkap Yaksi mengenai kejadian tersebut.
“Remaja itu mengira yang orang di mobil itu pria. Tapi, tetap saya ajak naik dengan iming-iming memberikan uang. Selama di perjalanan saya ajak ngobrol. Mengakunya banyak juga temannya seperti dia. Apa yang dilakukannya untuk mengumpulkan uang biar bisa beli ponsel keluaran terbaru,” beber Yaksi menceritakan kisahnya.
Atas peristiwa itu, Yaksi memprediksi jika kejadian dan perilaku remaja menyimpang seperti itu sudah lama terjadi. Dan, dapat saja semakin meningkat ketika prostitusi ditutup. Untuk itu, kepedulian masyarakat sangat dibutuhkan. Sebab, jika hanya mengandalkan perangkat daerah saja, maka sangat sulit diberantas. “Tugas kita bersama. Semua elemen. Siapa saja. Karena kejadian itu banyak terjadi karena kurangnya perhatian dari warga sekitar. Membiarkan dan justru mengambil keuntungan dari aktivitas itu,” ungkapnya.
Salah satunya, lanjutnya, memberlakukan jam malam bagi pelajar di luar. Program serupa memang pernah dijalankan sebelumnya. Waktu itu masih ditangani Satuan Polisi Pamomg Praja (Satpol PP) Nunukan. Hasilnya terlihat. “Saya juga heran kenapa bisa dihentikan program itu. Semoga saja, nanti bisa dikoordinasikan kembali agar program itu kembali dilakukan,” ujarnya.
Apa yang dialami Sekretaris Dinsos Nunukan, Yaksi B Pratiwi bukan hal yang baru. Sebab, sebelumnya Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Nunukan sudah sering mendapatkan laporan masyarakat mengenai prostitusi terselubung yang dilakukan di sejumlah hotel dan penginapan.
“Untuk membuktikan laporan itu, makanya dilakukan razia. Bahkan, tak hanya hotel dan penginapan, ada juga di kos-kosan dan rumah sewa,” ungkap Kepala Satpol PP Nunukan Abdul Kadir dalam sebuah kesempatan.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Pendudukan dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Nunukan Faridah Ariyani juga menyampaikan hal yang sama.
Ia mengatakan, praktik prostitusi remaja pernah dilaporkan. Bahkan, ketika melakukan sosialisasi di sejumlah kecamatan laporan mengenai hal tersebut disampaikan. Hanya saja, untuk menindaklanjutin diperlukan koordinas dan kerja sama yang matang dari segala pihak.
Bahkan, informasi yang diterimanya, protitusi remaja ini tergabung dalam sebuah perkumpulan yang disebut perkumpulan lampu merah. Kendati demikian, dirinya belum dapat memastikannya apakah memang benar ada atau seperti apa. Namun, dari informasinya, aktivitasnya kini berlalih di siang hari. “Biasanya dilakukan di hotel dan penginapan. Bahkan ada juga di kos-kosan,” ujarnya.
Aktivitas esek-esek terselubung ini diduga dikendalikan. Sebab, ada yang merekrut dan ada yang mengatur pertemuan dengan pelanggan. Penawaran harga biasanya melalui mucikarinya. Pelakunya hanya melayani setiap tamu. “Untuk tempatnya, tergantung kesepakatan mereka,” pungkasnya. (oya/zia)
Editor : Azwar Halim