Mereka adalah Yustanti, Anjung Purnama dan Sunarti yang mengikuti lomba di kategori start up Business yang dilaksanakan oleh Universitas Negeri Surabaya. Tujuan lomba ini digelar adalah sebagai wadah pengembangan minat di bidang bisnis mahasiswa.
“Jadi mereka membawa produk yang ada di Cafe Teknologi Hasil Perikanan (THP) FPIK UBT yang terdiri dari dua macam produk, yaitu produk basah dan juga produk kering,” ujar Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelauatan, saat diwawancarai Radar Tarakan, Minggu (25/9).
Ia menjelaskan, produk basah tersebut, adalah seperti frozen food, nugget ikan, sosweed moon moon, es rumput laut, dan lain-lain. Sedangkan, produk kering contohnya adalah golden fish cracker, cookies fish character, fish tamago, dan lain- lain.
Kegiatan ini terbagi menjadi dua kategori, yaitu kategori start up Business dan kategori scale up bussiness. Jumlah peserta yang mengikuti kegiatan ini adalah 10 tim dengan masing-masing tim terdiri dari 3 orang mahasiswa. Lima tim dari kategori start up, 5 tim dari kategori scale up.
“Saya selalu menyampaikan, bahwa proses itu tidak pernah menghianati hasil, proses itu penting. Apa yang kami lakukan di fakultas dengan dosen-dosen, itulah hasilnya. Kami membuat inovasi membuat kreativitas, ternyata kita bisa mampu menjuarai lomba di tingkat nasional. Itu seluruh Indonesia yang ikut kompetisi, ternyata kita bisa juara,” ungkapnya.
Meski UBT berada di wilayah 3T (Tertingal, Terdepan, Terluar), mahasiswa UBT bisa bersaing dengan mahasiwa-mahasiswa yang berada di pusat. “Ketika diberikan kesempatan untuk berkompetisi, ternyata kita juga mampu,” tuturnya.
Ia memberikan apresiasi kepada dosen – dosen dan mahasiswa. Ini bukan kerja parsial tapi kolektif kolegial, mulai dari pimpinan universitas, pimpinan fakultas dan seluruh dosen terlibat di situ.
“Artinya kerja itu bisa maksimal kalau kita kerjakan bersama-sama. Karena banyak pemikiran, banyak ide, dan itu akan menghasilkan inovasi-inovasi baru,” terangnya.
Pihaknya akan terus mendorong mahasiswa agar sering mengikuti lomba. Agar supaya mahasiswa bisa teruji, punya pengalaman, dan berinteraksi dengan orang-orang di luar sana.
Menurutnya, ini juga merupakan kebijakan dari Menteri Nadiem Makariem tentang Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka (MBKM). “Saya berharap, ini bisa menjadi motivasi kepada mahasiswa lainnya untuk berprestasi dan membawa nama UBT di tingkat nasional dan internasional,” tuturnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Borneo Tarakan (UBT) Prof. Dr. Adri Patton, M.Si memberikan apresiasi kepada mahasiswa FPIK UBT yang telah menjuarai lomba The 2nd Unesa Business Competition di tingkat nasional.
“Saya selaku Rektor UBT yang berada di daerah pedalaman, dan perbatasan Provinsi Kaltara, sangat terkejut dan merasa bangga dan terharu, ternyata mahasiwa kita bisa meraih juara 1 lomba di tingkat nasional. Artinya mahasiswa kita di perbatasan ini tidak kalah dengan mahasiswa yang berada di Pulau Jawa,” ujarnya.
Atas prestasi tersebut, ia akan memberikan reward kepada mahasiswa yang berprestasi ini. Apakah dalam bentuk pembinaan, atau pembebasan UKT. “Kita akan terus berikan pembinaan kepada mereka. Harapan kita juga bisa menjadi motivasi bagi fakultas yang lain di UBT. Saya yakin bukan hanya UBT saja yang bangga, Kaltara juga bangga, bahwa mahasiswa dari FPIK mampu menjadi terbaik di lomba ini,” katanya.
“Kalau saya lihat di perguruan tinggi ditempat lain mahasiswa yang berprestasi, dibebaskan UKTnya, tapi kita akan usahakan supaya ada penghargaan. Kita lihat nanti kebijakan apa yang diambil saya sebagai rektor. Gubernur Kaltara juga pasti bangga melihat mahasiswa Kaltara bisa meraih juara 1 diitngkat nasional,” tutupnya. (adv/dob/har) Editor : Muhammad Erwinsyah