Muhamad Alief Alfiansyah menjadi atlet pencak silat Provinsi Kaltara yang berhasil menorehkan prestasi yang sangat gemilang pada Event Open International Virtual Pencak Silat Tournament. Sebab, di dalam event tersebut dirinya secara resmi dinobatkan sebagai peraih medali emas satu-satunya di antara atlet pencak silat Kaltara lainnya. Berikut liputannya.
RACHMAD RHOMADHANI
ALIEF,sapaan akrabnya, anak semata wayang dari pasangan Hamzah Rewa dan Endang Rahmawati. Alief mengaku tidak menyangka akan torehan prestasinya tersebut. Sebab anak yang masih duduk di bangku kelas VI Sekolah Dasar (SD) Negeri 001 Bunyu, Kabupaten Bulungan ini menganggap tak cukup optimal dalam berlatih sebelum mengikuti event.
Tetapi, ditegaskannya bahwa hal itu bukan karena dirinya yang enggan mengikuti instruksi pelatihnya untuk tetap rajin berlatih. Melainkan, saat itu pasca dirinya khitan atau sunat. Sehingga beberapa waktu harus beristirahat atau tanpa melakukan latihan pencak silat sebagaimana mestinya.
Alhasil, saat dianggap dirinya siap berlatih dan tenggang waktu kejuaraan dianggap masih cukup, dirinya mengaku memulai latihan kembali dengan sungguh-sungguh.
“Jadi, hitungannya saya mulai latihan kembali pasca sunat. Yakni tiga minggu tiga hari tepatnya. Alhamdulillah dengan modal kesungguhan di dalam berlatih saya bisa menorehkan prestasi ini,’’ ungkapnya kepada pewarta saat dihubungi melalui sambungan telepon bersama pelatihnya kemarin.
“Tetapi, jujur saya tidak menyangka prestasi ini. Sebab, saya dengan persiapan yang terbilang cukup singkat ternyata bisa menjadi pemenangnya,’’ sambungnya, seraya membayangkan saat pertama mengetahui informasi itu.
Dikatakan Alief yang kelahiran Tarakan, 3 Desember 2008 ini, event yang digelar secara virtual itu menjadi sebuah pengalaman baru. Sebab, biasanya dalam mengikuti beberapa event dirinya secara langsung berhadapan dengan dewan juri dan ratusan pasang mata yang menyaksikannya. Tetapi, saat event yang berlangsung sejak 15-17 Agustus lalu itu berbeda jauh lantaran pandemi Covid-19 ini. “Walau tidak dihadapkan dewan juri langsung tetapi ada rasa grogi itu muncul. Ya, karena tetap harus konsentrasi tinggi saat tampil di depan kamera. Untungnya pelatih saya sudah memberikan arahan tetang cara tetap percaya diri (PD),’’ ujarnya.
Alief pun berharap melalui prestasi ini dapat menjadi pemacu semangat dirinya dan para atlet pencak silat lainnya. Yaitu, untuk tetap rajin berlatih setiap sekalipun kondisi suatu wilayah pandemi virus seperti saat ini. “Dan sebagaimana pesan pelatih saya, situasi pandemi Covid-19 itu tak menghalangi sebuah prestasi,’’ ungkapnya.
Dony Ary Yuwono selaku pelatih sekaligus Kepala Bidang Prestrasi (Binpres) Kaltara mengatakan, dalam event yang digelar secara open international ini memang menjadi tantangan baru sebagai pelatih ataupun atlet. Yaitu bagaimana harus bisa mengkondisikan atlet saat pengambilan video layaknya bertanding secara live. “Atmosfernya tentu sangat berbeda. Tetapi, saya optimistis saja dari beberapa atlet pencak silat yang telah mengikuti kejuaraan open international tersebut,’’ katanya.
Khusus untuk Alief yang dinobatkan sebagai peraih medali emas, menurut Dony, memang menjadi sebuah kejutan lantaran atlet itu sendiri sejatinya saat mengikuti baru saja selesai sunat atau khitan. Tetapi, sebagai pelatih tetap berupaya agar seluruh atletnya dapat tampil maksimal di dalam event tersebut. “Ini menjadi sebuah komitmen saya sebagai pelatih yang akan terus mengembangkan bakat atlet-atlet di Kaltara. Khususnya, pandemi ini tidak menyurutkan saya untuk terus memompa atlet agar berprestasi di bidangnya,’’ tuturnya.
Dikatakannya pula, dalam event ini, torehan prestasi atlet Kaltara tak hanya pada satu medali emas. Tetapi, ada satu medali perak dan empat medali perunggu yang berhasil ditorehkan atlet dari provinsi termuda di Indonesia ini. Diketahui, level pre junior diwakili oleh Alief, peraih medali emas, Nurisa Rahmadani peraih medali perak, Noor Akhmad Djunaedy peraih medali perunggu. “Sedangkan di level senior diwakili Fitria Ramadini Triono Maulana dan Fathani Lutfiah yang semuanya meraih perunggu,’’ jelasnya.
“Di Kalimantan ini sendiri dalam event itu hanya diwakili oleh dua kontingen. Yakni Kaltara dan Kaltim, dengan mengikuti kategori lomba yaitu tunggal baku dan beregu,’’ sambungnya.
Lebih lanjut dijelaskan Dony, peserta berasal dari beberapa negara lain seperti India, Jepang, Thailand, Brunei Darussalam, Philipina, Suriname, Kazakstan, Belanda, Australia, Yordania, dan Yaman. “Total atlet yang mengikuti sebanyak 445 atlet dengan 372 kategori,’’ sebutnya.
Terpisah, Ketua umum IPSI Kaltara Dr. H Sigit Muryono, MPd.Kons menambahkan, keberhasilan para atlet menorehkan mendali pada Event Open International Virtual Pencak Silat Tournament ini tentu sangat membanggakan pihaknya. Menurutnya, dengan prestasi ini bisa mengangkat daerah asal atlet ataupun pelatihnya itu sendiri. “Tidak mudah dalam menorehkan hasil gemilang dengan level internasional. Tapi, dengan keberhasilan para atlet itu saya sangat bangga dan memberian penghargaan dengan setinggi-tingginya,’’ ungkapnya.
Dikatakannya juga, dalam menorehkan prestasi itu tak bukan perkara mudah. Melainkan butuh perjuangan dan kerja keras. Baik dari atlet itu sendiri ataupun pelatih official-nya. Oleh karenanya, keberhasilan ini tentu sangat luar biasa sekali. “Apalagi, dengan pengurusan IPSI Kaltara yang masih baru ini. Sehingga prestasi ini sangat membanggakan. Mudah-mudahan kejuaraan yang juga bersama momennya di peringatan 17 Agustus ini. Maka, itu dapat memacu semangat dan pencak silat sebagai budaya asli Indonesia dapat terus mendunia,’’ harapnya.
Pihaknya juga berpesan kepada semua insan pencak silat agar terus bersama berpegang teguh dengan olahraga ini. Sehingga dapat terus membawa nama baik daerah yang tercinta ini. Sekalipun Bunyu, Kabupaten Bulungan, merupakan pulau yang cukup jauh. Tetapi, torehan prestasi jangan sampai putus. “Kami mengharapkan juga kepada pemerintah dapat sekiranya memberikan penghargaan kepada para atlet yang berprestasi ini. Ya, karena seperti saya katakan tidak mudah dalam menorehkan prestasi gemilang di tingkat internasional,’’ ujarnya. (***/ash)
Editor : Azwar Halim