Berpergian ke suatu daerah, tak terlepas dari buah tangan atau oleh-oleh untuk kerabat maupun orang-orang terdekat. Apalagi di suatu daerah memiliki sumber daya alam dan keunikan yang berbeda dengan daerah lainnya.
LISAWAN YOSEPH LOBO
TAK terkecuali dengan Kota Tarakan. Tarakan terkenal dengan kota transit, dan menonjol sebagai kota jasa. Apalagi berbatasan dengan negara tetangga. Tarakan diibaratkan pintu gerbang Kalimantan Utara, letaknya pun cukup strategis.
Tak hanya dalam bidang industri, Bumi Paguntaka atau nama lain dari Tarakan, juga terkenal dengan kulinernya. Maka, para wisatawan tak perlu khawatir maupun kebingungan untuk mencari oleh-oleh khas Kota Tarakan.
Mulai dari aneka makanan hingga barang-barang yang memiliki bentuk unik dan identik dengan daerah tersebut. Semisal, Tarakan merupakan sebuah pulau. Jelas saja hasil laut dan perairannya cukup berlimpah.
Dari hasil lautnya, tak hanya dikelola menjadi olahan kuliner. Melainkan dapat disulap menjadi kerajinan tangan. Seperti boneka dari kapah yang diproduksi oleh A. Chelsia F.
Boneka mungil yang mengenakan topi ini menggambarkan keseharian masyarakat yang berada di wilayah pesisir. Wanita berusia 49 tahun ini melanjutkan, dengan adanya kegiatan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi), kesempatan baginya untuk memperkenalkan budaya-budaya yang ada di Kalimantan Utara.
Ia membeberkan oleh-oleh khas Tarakan yang dapat dibawa pulang peserta Rakernas Apeksi, yakni produk dari kulit kayu, tenun dan batik Tarakan. Adapun dari bahan-bahan ini disulapnya menjadi tas dan dompet yang menggambarkan suatu budaya dari daerah tersebut.
“Kita produksi dari kulit kayu, tenun dan batik Tarakan, dibuat tas dan dompet,” jelas Chelsia.
Nah, dalam kesempatan ini, ia memperkenalkan budaya-budaya yang ada di Kalimantan Utara, khususnya Tidung melalui tas dan dompet yang ia produksi. Untuk edisi Apeksi ini, diangkatnya motif dari suku Tidung, yakni tanduk galung.
Diulasnya secara singkat, tanduk galung merupakan tusuk konde pengantin perempuan suku Tidung. Tanduk galung ini cukup unik dan khas, konon di masa lampau, konde ini tidak ditusukkan sebagaimana lazimnya tusuk konde. Melainkan dipegang di bagian belakang kepala pengantin perempuan oleh seorang yang dituakan.
“Di motif ini ada sepasang naga. Jadi kita mengenalkan warisan budaya yang ada di Kalimantan Utara, seperti dari suku Tidung supaya dikenal oleh orang luar,” ujarnya.
Adapun harga yang ia patok kisaran Rp 250 ribu hingga Rp 1 juta untuk produk tas dan dompet. Nah, produknya ini pun sudah ia pasarkan di pusat oleh-oleh Tarakan. “Jadi sudah saya titipkan di UMKM Center, nanti di Taman Berkampung juga,” katanya.
Untuk diketahui, UMKM Center Kota Tarakan menyediakan berbagai oleh-oleh khas Tarakan dan daerah Kalimantan Utara lainnya. Seperti Batik Tarakan. Nah, ada yang berbeda dari batik ini. Selain motifnya, pewarna dari batik ini menggunakan pewarna alam dari akar pohon mangrove. Jelas saja, warnanya lebih alami dan tidak begitu terang. Untuk harganya saja dipatok seharga Rp 265 ribu.
Selain batik Tarakan, ada pula batik Malinau yang memakai pewarna sintesis. Sehingga warnanya pun sedikit lebih terang dan mencolok. Harganya dipatok dari Rp 280 ribu hingga Rp 730 ribu.
Nah, tak hanya barang-barang yang unik, tetapi juga aneka jenis makanan. Di Tarakan, berlimpah ikan bandeng, maka tak heran dapat diolah menjadi camilan ringan seperti amplang.
Jenis-jenis amplang ini pun beragam, mulai dari olahan ikan bandeng, ikan bulan-bulan, kepiting dan rumput laut dengan cita rasanya yang khas. Sedangkan harganya pun dipatok dengan kisaran Rp 14 ribu hingga Rp 16 ribu.
Selain makanan ringan, ada juga jenis sambal yang memiliki ciri khas tersendiri. Seperti sambal Dayak yang memiliki variasi ebi, udang, bawang, dan rasa lainnya. Ada juga sambal Banjar dari olahan rumput laut. Harganya pun cukup terjangkau, yakni Rp 25 ribu.
Jika diulas satu per satu, sangat banyak khas Tarakan ini yang cocok dijadikan sebagai oleh-oleh. Mulai dari olahan rumput laut, singkong, dan hasil laut lainnya.
Sama halnya di Pasar Batu, berkaca dari pengalaman sebelumnya, seorang pedagang Ana (28) mengatakan, apabila ada kegiatan berskala besar maupun tamu dari luar kota, kebanyakan berburu ikan tipis dan udang kering.
Harganya pun cukup terjangkau, yakni Rp 15 ribu hingga Rp 35 ribu sesuai dengan kemasannya. Berbeda pula dengan udang kering, dipatok sedikit lebih mahal yakni Rp 45 hingga Rp 50 ribu per kemasannya.
“Kalau ada acara besar, tamu yang ke sini (Pasar Batu) banyak yang cari ikan tipis dan amplang. Tapi sekarang agak mahal ikan keringnya karena besar gelombang, Rp 18 ribu. Tapi kalau sudah normal harganya Rp 15 ribu,” jelasnya. (***/lim)
Editor : Sopian Hadi