Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Jalan Kaki 3 Hari Menyusuri Hutan dan Gunung

Azwar Halim • Senin, 23 Juli 2018 | 14:28 WIB
jalan-kaki-3-hari-menyusuri-hutan-dan-gunung
jalan-kaki-3-hari-menyusuri-hutan-dan-gunung

Pulau Sapi yang berada di Kecamatan Mentarang, Kabupaten Malinau, Kaltara ini dibentuk menjadi salah satu Desa Wisata setelah Desa Wisata Setulang di Kecamatan Malinau Selatan Hilir, Long Alango, dan Apau Ping di Kecamatan Bahau Hulu. Ragam budaya dan kesenian khas suku adat Dayak Lundayeh dapat ditemui di desa ini. Beruntung, Radar Tarakan berhasil menemui satu-satunya orang yang masih hidup dari tujuh keluarga yang pertama kali menginjakkan kaki di furru safe’  (Pulau Sapi) pada 1956 silam.


 


MEGA RETNO WULANDARI


 


PERTEMUAN secara tidak sengaja mengantarkan pewarta bertemu dengan salah satu keponakan dari Bet Selutan. Ya, wanita sepuh yang lebih akrab disapa Nenek Bet ini merupakan satu-satunya keluarga yang masih hidup, dari tujuh keluarga yang pertama menginjakkan kaki di Pulau Sapi.


Tahun ini Nenet Bet berusia 107 tahun, meski kulit sekujur tubuhnya sudah keriput, fisik dan kesehatan Nenek Bet masih prima. Hanya kemampuan mengingatnya yang dimakan usia. Namun dirinya masih mengingat awal mula bersama keluarganya pindah dari Long Sefayang, yang sekarang dikenal Krayan Hilir, untuk mencari tempat tinggal yang lebih dekat dengan sekolah, dan pusat kesehatan masyarakat.


Dengan dibantu oleh keponakannya, Paris Lakung yang di mana ayahnya juga menjadi satu dari tujuh keluarga yang bermigrasi ke Pulau Sapi. Kepindahan tujuh keluarga itu berawal dari kedatangan misionaris ke Desa Long Sefayang.


Para misionaris membawa ajaran agama dan mengenalkan Injil untuk pertama kalinya. Saat itu, para misionaris memberi pandangan pada masyarakat Long Sefayang akan pentingnya akses jalan, untuk memudahkan masyarakat dalam mendapatkan pendidikan, dan fasilitas kesehatan. Mengingat Long Sefayang lokasi yang cukup jauh dan sulit untuk dijangkau. Hal itulah yang membawa tujuh keluarga dari Desa Long Sefayang untuk mencari tempat tinggal baru dengan harapan dapat hidup lebih baik. 


Berjalan kaki melewati hutan selama tiga hari, hingga sampai ke Long Berang. Di sana mereka membuat rakit dari kayu talun, diikat dengan wefet (rotan), dengan waktu pembuatan hingga satu minggu. 


“Karena proses membuat rakit itu cukup lama, sementara itu mereka tinggal di Long Berang. Jadi karena mereka pertama kali mengikut sungai, di Long Berang menginapnya di Kuala Semamu. Nah di sana mereka baru mulai bertolak sampai ke jeram belalau, sibu hingga kepitan (jeram berbahaya). Jadi jumlah yang turun itu tujuh keluarga, termasuk Nenek Bet adik ipar, dari ibu saya Luak, dan bapak saya Lakung Lahu, bersama dengan Lufung Akad, dan beberapa lainnya,” ujar Paris.


Setelah melewati sejumlah jeram, ketujuh keluarga itu menuju Tanjung Lapang. Namun, saat di perjalanan mereka bertemu dengan tuan tanah bernama Rud Asud yang mengajak mereka untuk berhenti di pulau yang bernama Melukeb, yang saat ini dikenal sebagai furru safe’ atau Pulau Sapi.


“Sebenarnya tujuan mereka bukan di sini, tapi ke Tanjung Lapang atau ke Taras. Tapi di sana tidak luas tempatnya, jadi secara tidak sengaja menemukan pulau ini. Jadi mereka mencoba untuk bertani di sini, menanam ubi, jagung, dan padi. Mereka kerja keras dengan bergotong royong, saling bantu menggarap ladang, hingga akhirnya mereka berhasil membuka lahan dan membawa lebih banyak lagi kerabat mereka untuk tinggal di Pulau Sapi.


Nama Pulau Sapi dipilih secara tidak sengaja. Diungkapkan pria yang berprofesi sebagai guru agama di SDN 001 Mentarang ini, sejak ditemukannya bangkai sapi di Pulau Melukeb karena terbawa arus sungai, mulai saat itulah nama Melukeb tidak lagi disebut sebagai nama pulau yang didiami 383 kepala keluarga ini.


“Baik dinamakan Pulau Sapi, lebih gampang disebut dan dikenal orang. Sayangnya nama Melukeb ini tidak lagi dikenal sebagai nama asli pulau ini,” tambahnya.


Kepindahan tujuh keluarga itu juga ditentang oleh kerabat dan orang tua mereka di Long Sefayang. Namun, keyakinan dan keteguhan untuk bisa menyekolahkan anak, serta mendapatkan kehidupan yang lebih baik mereka tidak gentar. Keyakinan itulah yang kini juga mengalir di dalam darah Paris Lakung.


“Termasuk Nenek Bet, dialah orang yang menyekolahkan saya hingga sarjana, memotivasi, dan mendukung saya. Jadi saya tidak ingin menyia-nyiakan apa yang sudah mereka lakukan hingga sampai ke sini, itu juga yang saya tularkan kepada anak-anak saya. Syukur mereka sudah selesai pendidikan hingga sarjana,” ungkapnya.


Melihat perkembangan Pulau Sapi yang saat ini dijadikan Desa Wisata, Bet Selutan yang tidak telalu fasih berbahasa Indonesia dibantu oleh Paris Lakung. Mengungkapkan, rasa bangga dan bersyukur. Pulau yang dulunya tidak berpenghuni saat ini cukup maju, ditambah penataan desa yang begitu apik sehingga dapat mengundang banyak orang untuk berkunjung ke Desa Wisata Pulau Sapi. Selain itu, Bet Selutan juga berharap agar budaya dan nilai-nilai adat bisa terus lestari, meski di zaman serba modernsaat ini. (***/lim)


 


Jalan Kaki 3 Hari Menyusuri Hutan dan Gunung

Editor : Azwar Halim