Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Kental Budaya, Diisi Sembilan Jenis Baloy

Azwar Halim • Sabtu, 24 Maret 2018 | 07:50 WIB
kental-budaya-diisi-sembilan-jenis-baloy
kental-budaya-diisi-sembilan-jenis-baloy

KULTUR budaya di Indonesia memang sangat kaya. Di bagian Kalimantan   seperti di Tarakan suku asli yang mendiami kota ini adalah suku Tidung, yang juga memiliki rumah adat yang tak kalah bagusnya dengan suku-suku lainnya.


Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan sengaja membangunkan fasilitas rumah adat untuk menjadikan salah satu destinasi wisata, rumah adat suku Tidung yang berlokasi di Jalan Sei Sesayap Rt 01 Kelurahan Kampung Enam Kecamatan Tarakan Timur.


“Luas Lahan balai ini 1,7 hektare, dan dibangun sejak 2011 dan selesai 2014 karena pembangunannya dilakukan secara bertahap sesuai dengan anggaran yang ada,” kata Amiruddin S.T, Perancang Baloi Adat Tidung.


Bangunan ini dirancang sesuai dengan konsep dasar yang ada mengutamakan konsep khas suku Tidung. Balai ini terdiri dari sembilan bangunan dengan masing-masing penamaan dan kegunaannya.


“Itu berbeda-beda, karena fungsinya juga berbeda. Kalau dilihat sekilas memang mirip, tetapi terdapat perbedaan dari nama dan juga kegunaanya,” kata Amir.


Di awal membangun Baloy Adat Tidung ini dimulai dari ruang tengah atau disebut dengan baloy unod. Biasanya jika membuat rumah maka, bangunan inilah yang pertama kali dibuat agar dapat melanjutkan kehidupan. Baloy unod ini sendiri memiliki luasan 11,75x13,75 meter persegi.


“Ini biasa juga disebut sebagai dapurnya, jadi memang harus pertama kali dibuat dibagian tengah,” katanya.


Selanjutnya membuat bangunan bernama baloy yampu atau sebagai tempat tinggal dari yang mempunyai rumah atau sebagai orang tua dan kepala rumah tangga. Baloy ini digunakan sebagai kantor pengelola yang dibagi menjadi dua pintu dengan ukuran yang sama yakni 7,65x7,26 meter persegi.


Selanjutnya bangunan yang diberi nama baloy delaki, di mana semua lelaki akan berkumpul di baloy ini. Bangunan ini sendiri berukuran 7,56x14,75 meter persegi, dan saat ini digunakan sebagai kantor pelayanan ruang koleksi museum.


Selanjutnya baloy denandu, balai ini terbagi atas dua bagian depan dan belakang. Untuk baloy denandu depan digunakan untuk serambi pandopo depan yang berukuran 20,15x13,75 meter persegi. Untuk baloy denandu belakang berukuran 20,15x9,55 meter persegi, dan digunakan untuk kegiatan para perempuan-perempuan.


“Itu sebagai ruang serbaguna, dan di depannya baloy denandu depan terdapat gegulang atau panggung terbuka,” ujarnya.


Selain lima bangunan besar yang berkeliling ini, disetiap sudut-sudutnya diberikan semacam ruang tempat-tempat berkumpul. Bangunan ini memang lebih kecil dibandingkan lima bangunan tadi. Nama empat bangunan ini yakni baya meligay atau padu rasa sebagai bangunan pengikat dari semua bangunan yang ada.  


“Dulu itu digunakan untuk raja duduk-duduk melihat orang lalu lalang dengan duduk di pojok-pojokan itu,” jelasnya.


Balai ini lebih banyak menggunakan kayu yang dikombinasikan dengan benton sebagai tiang penyangganya. Kayu yang digunakan berjenis ulin, ipil, lembasung dan bengkirai.


Penggunaan kayunya pun tidak sembarangan. Harus keras, tahan air dan panas matahari yang kelasnya memang kelas tinggi. Kayu ulin sendiri digunakan untuk kontruksi teras berkeliling termasuk untuk pagar karena memang pasti akan kena air dan panas sehingga membutuhkan kayu yang sangat keras dan tahan lama.


“Kalau kayu ulin tidak bisa digunakan untuk mengukir, karena dalam kontruksinya selalu pecah,” ungkap Amir.


Sedangkan untuk kayu jenis ipil atau merbau sendiri, digunakan untuk dinding balai, karena memang keras dan tahan panas. Biasanya memang kayu jikalau terkena panas maka akan menyusut, tetapi ipil memang tidak pecah dan tidak jabuk. Untuk bengkirai dan lembasung digunakan sebagai ukiran kayu, karena memang tidak mudah pecah dan juga tahan lama.


“Ini kayu diambil semua dari sini saja, karena memang banyak di Kalimantan,” ucapnya.


Sedangkan untuk tiangnya sendiri, konstruksi awalnya ingin menggunakan kayu jenis ulin, tetapi karena sulit mendapatkannya sehingga digantikan dengan beton. Karena menggunakan jenis dan kontruksi yang kuat maka diharapkan bisa bertahan lama.


“Kami ingin memang bertahan lama, jadi gunakan kayu yang tahan akan segala macam jenis cuaca,” pungkasnya. (*/naa/nri)

Editor : Azwar Halim