PENDIRIAN bangunan, secara umum harus melihat kontur tanah. Jika tidak maka bangunan yang dibuat tidak akan bertahan lama. Seperti tanah di Tarakan, yang cenderung berpasir, mudah bergeser, sehingga sangat rawan terjadi longsor.
“Kalau pasir yang lengket itu tidak masalah, tetapi berbeda lagi dengan Tarakan. Di mana kontur tanahnya itu pasir yang mudah longsor,” kata Fernando, Ketua Asosiasi Perumahan Seluruh Indonesia (Apersi) Tarakan.
Fernando menyarankan agar sebelum membangun, tanah harus diratakan, seperti yang dilakukannya untuk perumahan. Tanah tidak boleh dibuat seperti anak tangga (trap) seperti Balikpapan atau Samarinda karena sangat rawan dan berbahaya. “Untuk rumah yang berada di bukit, lebih baik diratakan. Agar jangan sampai risikonya terlalu tinggi,” ungkapnya.
Untuk perumahan, jika wilayahnya padat, maka dibuat desain konstruksi cakar ayam sebanyak sebelas titik. Sehingga semua pojokan itu, sudah terdapat cakar ayamnya. Selanjutnya, untuk pondasi dengan menggunakan batako. Setelah itu, dari atas di cor sloof beton agar lebih kuat.
“Cor juga bisa dilakukan dengan cor bertulang, jadi ada dua pilihan. Tetapi fungsinya untuk membuat rumah yang kokoh,” ujarnya.
Setelah itu, di atasnya lagi kembali dinaikkan batako sekitar tiga meter tingginya sampai sloof atas kembali. Setelah itu, penyelesaiannya dipasangkan atap dan pemasangan plafon. Setelah itu melakukan pengecetan.
“Memang harus kuat. Kalau tanah sudah rata, pondasi rumah juga harus kuat. Agar tahan lama,” ungkapnya.
Setelah rumah jadi, yang terpenting berikutnya yakni sirkulasi udara dalam rumah, agar menjadi lebih sehat. Untuk perumahan, kebanyakan menginginkan kamar yang zig-zag, padahal membuat rumah harus dengan sirkulasi udara sehat yakni kamar harus sejajar.
“Jadi, kamar yang sejajar itu lebih membuat sirkulasi udara menjadi lebih sehat, karena tidak terhalang apapun,” jelasnya.
Selain sirkulasi udara, pencahayaan juga penting dan harus baik. Rumah yang baik harus ada space atau ruang, agar tidak berdempet dengan rumah lainnya. Biasanya baik rumah maupun perumahan agar menghemat tanah, rumah akan berdempetan.
“Kalau perumahan saya, sebagai contoh, lebar tanah 10 di depan panjang ke belakang 12. Jadi untuk rumah itu, space untuk yang paling mepet yakni 0,75 meter. Agar sirkulasi udara dan pencahayaannya bagus,” ungkapnya.
Sementara itu, suplier perumahan, Agus mengatakan untuk pembuatan pintu menggunakan rangka kayu, dan dalamnya menggunakan blockboard untuk mengurangi penyusutan. Jadi memang jika dari pabrik itu, kebanyakan sudah dikeringkan menggunakan oven atau clean dry.
“Karena itu, memang jika menggunakan blockboard, tidak mudah menyusut,” terangnya. (*/naa/lim)
Editor : Azwar Halim