Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Distan Malinau Targetkan Produksi 10 Ton per Hektare dari Uji Coba Jagung Hibrida Unhas

Dip Ratar • Minggu, 10 Mei 2026 | 00:11 WIB
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Malinau, Magdalena. FOTO: RADAR TARAKAN
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Malinau, Magdalena. FOTO: RADAR TARAKAN

MALINAU - Dinas Pertanian Kabupaten Malinau mulai melakukan uji coba penanaman jagung hibrida varietas Universitas Hasanuddin (Unhas) di lahan milik pemerintah daerah seluas 8 hektare yang baru dibuka. Dari uji coba tersebut, Distan menargetkan produktivitas jagung dapat mencapai hingga 10 ton per hektare.

Varietas jagung Unhas diketahui memiliki sejumlah keunggulan, mulai dari tongkol yang lebih besar dan padat, produktivitas tinggi, hingga lebih tahan terhadap serangan penyakit dibanding varietas biasa. Tanaman ini juga memiliki karakter stay green atau batang tetap hijau saat panen sehingga dinilai cocok dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Selain menghasilkan biomassa tinggi yang diminati peternak sapi, varietas ini juga disebut potensial untuk mendukung kebutuhan industri pakan, pati, hingga bioenergi. Jagung tersebut telah diuji di sejumlah daerah di Indonesia dengan hasil yang cukup baik.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Malinau, Magdalena mengatakan, bibit jagung tersebut diperoleh saat kunjungan kerja Bupati Malinau bersama jajaran ke Universitas Hasanuddin.

“Kami kan kunjungan kerja, nah di situ Pak Bupati sama dekan, profesor berbincang-bincang. Kebetulan bibit di sana, itu bibit hibrida ini. Dalam satu hektare bisa menghasilkan 10 ton,” ujarnya kepada Radar Tarakan, Jumat (8/7).

Meski demikian, target produktivitas tersebut masih perlu dibuktikan melalui proses adaptasi lahan dan kondisi iklim di Kabupaten Malinau. Distan mengakui karakteristik tanah dan cuaca daerah setempat bisa memengaruhi hasil panen.

“Tapi kita belum tahu kondisi di sana sama kondisi lahan di sini. Makanya kami terapkan di sini apakah berhasil atau tidak. Kalau misalnya ada permasalahan mungkin karena kecocokan lahannya. Jadi kami berharap apa yang dihasilkan dari Unhas itu semoga berhasil juga di Kabupaten Malinau,” katanya.

Uji coba ini menjadi langkah awal untuk melihat sejauh mana varietas unggulan tersebut mampu berkembang di wilayah perbatasan dan pedalaman seperti Malinau. Pasalnya, tantangan sektor pertanian di daerah tidak hanya terkait bibit, tetapi juga infrastruktur, pendampingan petani, hingga keberlanjutan pemasaran hasil panen.

Magdalena menjelaskan, pengembangan lahan pertanian tersebut merupakan bagian dari program Pertanian Sehat (Pesat) yang didorong Dinas Pertanian untuk meningkatkan produktivitas lahan tidur milik pemerintah daerah.

Menurutnya, lahan yang baru dibuka saat ini lebih cocok ditanami jagung sebelum nantinya dilakukan pergantian dengan tanaman semusim lainnya secara bertahap.

“Karena ini lahan baru dibuka, jadi cocoknya tanaman jagung dulu untuk keseluruhan. Setelah itu tanaman semusim, tiga bulan kemudian berganti terus menerus. Kami sudah persiapkan semua bibit yang akan ditanam di lahan ini,” jelasnya.

Ia menegaskan, Dinas Pertanian berkomitmen memanfaatkan lahan tidur milik pemerintah daerah agar tidak terbengkalai dan dapat mendukung pengembangan sektor pertanian di Kabupaten Malinau. “Kami tidak ingin seperti pesan Pak Bupati, lahan-lahan pemda dibiarkan tidur. Jadi kami dari Dinas Pertanian akan mengusahakan setiap lahan tidur ini kami manfaatkan,” tutupnya. (*/dip/lim)

 

 

 

Editor : Azward Halim
#malinau