Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Malinau, Jon Layri, menyebutkan ada beberapa penyakit yang perlu diwaspadai masyarakat setelah banjir surut.
“Biasanya yang muncul itu ISPA, diare, penyakit kulit, dan leptospirosis. Itu yang sering terjadi pasca banjir,” ujarnya saat ditemui dikantor Dinkes Malinau, Kamis (26/2).
Ia menjelaskan, leptospirosis merupakan penyakit yang ditularkan melalui air yang terkontaminasi urine tikus yang terinfeksi. Saat banjir, kotoran maupun air kencing tikus dapat terbawa arus dan menyebar ke berbagai tempat.
“Ketika ada warga yang memiliki luka atau lecet di kaki, bakteri bisa masuk melalui kulit. Bisa juga melalui tangan atau alat makan yang tidak bersih dan masuk ke saluran pencernaan. Itu bisa menyebabkan leptospirosis atau diare,” jelasnya.
Selain itu, saat membersihkan rumah pasca banjir, warga juga berisiko mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat debu dan sisa lumpur yang mengering. Karena itu, masyarakat disarankan menggunakan masker saat melakukan pembersihan.
Untuk mencegah penyakit kulit dan diare, warga diimbau menggunakan air bersih dan tidak memanfaatkan air yang tercemar. Perabot rumah tangga juga sebaiknya dicuci dengan air bersih dan desinfektan guna membunuh bakteri sisa genangan banjir.
Jon menambahkan, kelompok rentan seperti ibu hamil, bayi, dan lansia perlu mendapat perhatian khusus agar terhindar dari paparan penyakit.
Meski hingga kini belum ada laporan kasus penyakit akibat banjir, Dinas Kesehatan tetap mengingatkan masyarakat untuk menjaga perilaku hidup bersih dan sehat.
“Kami mengimbau warga agar tetap waspada dan menjaga kebersihan diri maupun lingkungan. Pencegahan lebih baik agar penyakit pasca banjir tidak muncul setelah air surut,” tutupnya. (*/dip/lim)
Editor : Azward Halim