Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit DKPPKB Malinau, Jonlayri, mengatakan dari total kasus tersebut, sebagian pasien telah meninggal dunia. Hingga kini, tercatat sebanyak 160 orang masih aktif menjalani pengobatan HIV di fasilitas kesehatan di Malinau. “Jika diakumulasi dari tahun-tahun sebelumnya sampai sekarang, totalnya ada 269 kasus. Namun, sebagian sudah meninggal dunia dan yang masih aktif berobat saat ini sebanyak 160 orang,” ujarnya, Kamis (5/2).
Ia menjelaskan, dari jumlah pasien yang masih menjalani pengobatan tersebut, kelompok LSL (laki-laki suka laki-laki) mendominasi dengan 43 orang. Selain itu, terdapat empat waria, delapan ibu hamil, serta tiga kasus TB-HIV. “Kasus TB-HIV ini awalnya terdiagnosis tuberkulosis. Setelah dilakukan pemeriksaan darah dan dahak, ternyata juga terinfeksi HIV,” jelasnya.
Jonlayri juga mengungkapkan terdapat 21 pasien yang merupakan pasangan dari orang dengan HIV. Umumnya, penularan terjadi dari suami ke istri. “Dalam beberapa kasus, pasangan yang menjadi sumber penularan juga ada yang sudah meninggal dunia,” ungkapnya.
Sementara itu, kasus lainnya ditemukan pada populasi umum, seperti pekerja kantoran, anggota TNI, Polri, serta masyarakat umum lainnya.
Menurut Jonlayri, tidak seluruh pasien HIV yang menjalani pengobatan berdomisili di Kabupaten Malinau. Sebagian berasal dari daerah sekitar dan terdeteksi saat menjalani pemeriksaan di RSUD Malinau. “Jadi, tidak semuanya warga Malinau. Ada juga yang berasal dari wilayah terdekat, namun terdeteksi saat pemeriksaan di RSUD Malinau,” katanya.
Ia menambahkan, saat ini data pasien HIV telah terintegrasi di seluruh puskesmas. Dengan sistem tersebut, pasien dapat mengambil obat di puskesmas mana pun yang menyediakan layanan, dan seluruh pengobatan HIV diberikan secara gratis.
Terkait penularan, Jonlayri mengingatkan bahwa HIV umumnya menyebar melalui hubungan seksual berisiko, seperti berganti-ganti pasangan dan hubungan tanpa kondom, penggunaan jarum suntik tidak steril, transfusi darah dari sumber yang tidak jelas, serta penularan dari ibu ke bayi.
“Karena itu, upaya pencegahan sangat penting, mulai dari perilaku seksual yang aman, tidak berbagi jarum suntik, memastikan alat medis steril, hingga rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, khususnya bagi ibu hamil,” tegasnya. (*/dip/lim)
Editor : Azward Halim