Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Penataran Nasional Wasit/Juri FORKI Digelar di Malinau, Bekal untuk Porprov Kaltara II 2026

Dip Ratar • Kamis, 8 Januari 2026 | 18:04 WIB

Wakil Ketua I Dewan Wasit Pengurus Besar FORKI, Donal P.L. Kolopita, S.Sn.
Wakil Ketua I Dewan Wasit Pengurus Besar FORKI, Donal P.L. Kolopita, S.Sn.
MALINAU - Penataran Nasional Wasit/Juri tingkat Provinsi Kalimantan Utara untuk pertama kalinya di gelar di Kabupaten Malinau pada 8-10 Januari 2026. Kegiatan ini menjadi bagian penting dari persiapan menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) II Kalimantan Utara 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada September mendatang.

Penataran tersebut diikuti 21 peserta dari lima kabupaten/kota di Kalimantan Utara, masing-masing 7 peserta dari Malinau, 7 dari Tarakan, 2 dari Nunukan, 2 dari Kabupaten Tana Tidung (KTT), serta 3 dari Bulungan. Seluruh peserta mengikuti penataran dengan target kenaikan lisensi ke Grade B.

Kegiatan ini menghadirkan Wakil Ketua I Dewan Wasit Pengurus Besar FORKI, Donal P.L. Kolopita, S.Sn., sebagai instruktur utama. Donal merupakan WKF Referee A, lisensi wasit tertinggi tingkat internasional yang dikeluarkan oleh World Karate Federation (WKF).

Donal menyampaikan bahwa penataran ini merupakan tindak lanjut dalam menyiapkan perangkat pertandingan yang profesional dan berintegritas menjelang Porprov II Kaltara 2026.

"Penataran ini sangat penting sebagai bekal menghadapi Porprov II Kaltara. FORKI mengikuti sistem dan peraturan World Karate Federation yang setiap tahun selalu mengalami penyempurnaan, sehingga wasit wajib memahami regulasi terbaru," ujar Donal Kepada Radar Tarakan, Kamis (8/1).

Ia menjelaskan, penataran tidak hanya menitikberatkan pada penyampaian teori, tetapi juga mendorong terjadinya interaksi aktif melalui sesi tanya jawab serta praktik langsung.

"Jadi penataran ini dilakukan melalui tiga tahapan, pertama teori dan diskusi, lalu ada praktik tanpa atlet, serta praktik dengan atlet untuk mensimulasikan kondisi pertandingan yang real," jelasnya.

Selain pemahaman aturan, penataran ini juga menekankan pentingnya netralitas wasit dan pencegahan konflik kepentingan, khususnya pada ajang multievent seperti Porprov. Setiap wasit dituntut bersikap objektif dan tidak memimpin pertandingan yang melibatkan daerah atau perguruannya sendiri.

Donal juga menyinggung penerapan sistem video review (VR) dalam pertandingan karate modern. Sistem ini memungkinkan pelatih mengajukan protes yang kemudian ditinjau ulang melalui rekaman video dalam durasi tertentu guna memastikan keputusan wasit tetap akurat dan adil.

Melalui penataran ini, Donal berharap dapat melahirkan wasit dan juri yang tidak hanya siap bertugas pada Porprov II Kaltara 2026, tetapi juga mampu berkiprah di tingkat nasional hingga internasional, khususnya di kawasan Asia Tenggara. (*/dip/lim)

Editor : Azward Halim