0 Kaltara Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Misteri Kuburan Batu 400 Tahun di TNKM Malinau, Jejak Megalitikum Dayak Ngorek Bertahan di Hutan Tropis

Fijai RT • Minggu, 4 Januari 2026 | 19:25 WIB

 

JEJAK MEGALITIKUM: Kuburan batu peninggalan Megalitikum di kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang.
JEJAK MEGALITIKUM: Kuburan batu peninggalan Megalitikum di kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang.
DI PEDALAMAN hutan tropis Kalimantan Utara (Kaltara), Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) menyimpan jejak peradaban kuno yang masih menyisakan misteri hingga kini. Kuburan batu berusia sekitar 400 tahun peninggalan suku Dayak Ngorek menjadi saksi bisu kehidupan masyarakat prasejarah yang pernah menghuni kawasan ini, menampilkan tradisi pemakaman dan sistem kepercayaan yang unik, serta hubungan harmonis manusia dengan alam.

 

TNKM seluas sekitar 1,2 juta hektare dikenal tidak hanya sebagai paru-paru dunia, tetapi juga sebagai rumah bagi situs-situs megalitikum yang tersebar di beberapa titik, seperti Lalut Birai dan Long Berini. Di tengah rimbunnya hutan tropis, struktur kuburan batu ini berdiri kokoh, menyimpan cerita tentang masyarakat Dayak Ngorek yang telah bermigrasi ratusan tahun lalu.

 

Kuburan batu ini umumnya tersusun dari batu besar, dengan beberapa bentuk khas seperti lempengan datar atau ceruk untuk peletakan peti jenazah (erong). Kepala Balai TNKM, Seno Pramudito, menjelaskan bahwa variasi bentuk dan ukuran kuburan mencerminkan nilai budaya dan status sosial masyarakat pendukungnya. “Setiap situs memiliki karakter unik, yang menunjukkan sistem kepercayaan, tradisi pemakaman, dan struktur sosial yang sudah berkembang pada masa itu,” ujarnya, Sabtu (3/1).

 

Menurut para ahli arkeologi, kuburan batu ini termasuk peninggalan neolitik akhir, yang menandai transisi masyarakat dari pola hidup berburu dan meramu menuju kehidupan yang lebih menetap dengan ritual sosial dan kepercayaan yang kompleks. Tradisi menggunakan batu besar dalam pemakaman juga menunjukkan penghormatan tinggi terhadap leluhur dan adanya keyakinan akan kelanjutan kehidupan setelah kematian.

 

Beberapa situs, seperti Kuburan Batu Long Berini, kini dikembangkan menjadi objek wisata sejarah dan budaya. Pengunjung dapat melihat langsung struktur megalitikum yang masih terawat, sekaligus belajar mengenai peradaban kuno Dayak Ngorek, pola hidup mereka, serta hubungan mereka dengan lingkungan hutan tropis yang lebat dan menantang.

 

Selain aspek sejarah, Balai TNKM juga menekankan pentingnya pelestarian kearifan lokal masyarakat sekitar. Melalui pendampingan, pelatihan, dan pembinaan kelompok masyarakat, pengembangan wisata berbasis budaya dijalankan secara berkelanjutan. Tujuannya tidak hanya menjaga situs arkeologi, tetapi juga memberdayakan masyarakat agar ikut merasakan manfaat ekonomi dan sosial dari keberadaan destinasi wisata tersebut.

 

“Masyarakat lokal menjadi bagian penting dari upaya konservasi. Mereka tidak hanya menjaga situs, tetapi juga mengenalkan budaya dan tradisi mereka kepada pengunjung. Dengan begitu, sejarah dan budaya lokal bisa hidup dan dikenal secara lebih luas,” tambah Seno.

 

Jejak kuburan batu 400 tahun ini juga menegaskan bahwa TNKM bukan sekadar kawasan konservasi flora dan fauna, tetapi juga cagar budaya hidup yang menyimpan misteri peradaban kuno. Penemuan situs-situs megalitikum seperti ini membuka wawasan tentang bagaimana manusia di masa lampau membangun hubungan harmonis dengan alam, memelihara nilai spiritual, serta menata kehidupan sosial yang kompleks di pedalaman Kalimantan.

 

Dengan narasi sejarah, budaya, dan konservasi yang berpadu, TNKM menjadi simbol harmonisasi manusia dan alam, tempat di mana pelestarian lingkungan dan penghormatan terhadap warisan leluhur berjalan beriringan. Misteri kuburan batu Dayak Ngorek masih menunggu penelitian lebih lanjut, namun kehadirannya menjadi pengingat akan kaya dan dalamnya sejarah peradaban Kalimantan yang tersembunyi di balik rimbun hutan tropis. (*/dip/lim)

 

Editor : Azward Halim