Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Natal 2025 Paroki St. Stefanus Malinau Angkat Inkulturasi Batak, Gereja Dihiasi Ulos dan Rumah Adat

Dip Ratar • Jumat, 26 Desember 2025 | 03:16 WIB

HIAS: Ulos, kain tenun tradisional Batak yang digantung sebagai dekorasi di dalam Gereja Paroki St. Stefanus Malinau.
HIAS: Ulos, kain tenun tradisional Batak yang digantung sebagai dekorasi di dalam Gereja Paroki St. Stefanus Malinau.
MALINAU – Perayaan Natal 2025 di Paroki St. Stefanus Malinau mengusung nuansa inkulturasi budaya Batak. Hal ini tampak dari dekorasi gereja yang dipenuhi ulos Batak serta kandang Natal yang menyerupai rumah adat Batak, sebagai bentuk apresiasi terhadap keberagaman budaya dalam Gereja Katolik.

Ketua Panitia Natal Paroki St. Stefanus Malinau, Banuara Sihombing menjelaskan, bahwa nuansa Batak pada Natal tahun ini merupakan hasil keputusan pastoral yang telah disampaikan sejak tahun sebelumnya.

“Untuk Natal 2025 ini, Pastor Paroki dan Dewan Gereja Pastoral telah menetapkan nuansa Batak. Di Paroki Malinau sendiri, setiap tahun perayaan Natal dilakukan secara bergantian berdasarkan suku atau etnis sebagai bentuk penghargaan terhadap keberagaman,” ujarnya.

Ia mengatakan, meskipun umat Katolik Batak di Paroki St. Stefanus Malinau jumlahnya relatif sedikit, sekitar 13 hingga 14 kepala keluarga, namun kesempatan ini menjadi momen yang sangat istimewa.

“Walaupun jumlah umat Katolik Batak sedikit, kami tetap diberi ruang untuk menampilkan identitas budaya. Ini menunjukkan bahwa suku Batak adalah bagian yang utuh dari keluarga besar Paroki Malinau,” katanya.

Nuansa Batak terlihat jelas dari interior gereja yang dihiasi ratusan ulos Batak dengan beragam motif dan warna. Selain itu, pohon Natal hingga kandang Natal juga mengadopsi ornamen dan bentuk rumah adat Batak dari wilayah Toba, Sumatera Utara.

“Ulos yang digunakan jumlahnya hampir 200 lembar. Ini merupakan simbol penting dalam adat Batak, karena setiap keluarga Batak umumnya memiliki ulos sebagai bagian dari kehidupan adat, mulai dari pernikahan hingga kehidupan keluarga,” jelasnya.

Menurut Banuara, penerapan inkulturasi budaya dalam perayaan Natal sejalan dengan semangat Gereja Katolik yang menghargai budaya sebagai sarana untuk memperdalam iman dan memperkuat persatuan umat.

“Melalui budaya, iman Katolik justru semakin diperkaya. Inkulturasi ini bukan untuk membedakan, tetapi untuk mempererat persaudaraan dan kesatuan iman,” tambahnya.

Persiapan perayaan Natal telah dimulai sejak November 2025 melalui pembentukan panitia dan pembagian tugas kepada masing-masing seksi. Menariknya, meskipun nuansa perayaan mengangkat budaya Batak, seluruh proses persiapan melibatkan umat dari berbagai suku.

“Yang membedakan hanya nuansanya saja Batak, tetapi pelaksananya adalah semua suku. Inilah indahnya kebersamaan umat di Paroki St. Stefanus Malinau,” ungkapnya.

Untuk jadwal misa, Misa Malam Natal akan dilaksanakan pada 24 Desember 2025 pukul 19.00 Wita, sementara Misa Natal pada 25 Desember 2025 pukul 09.00 Wita. Umat dari Wilayah I dan II, termasuk sejumlah stasi, akan berpusat di Gereja Paroki St. Stefanus Malinau.

“Kapasitas gereja kurang lebih dapat menampung 800 hingga 1.000 umat. Kami juga menyiapkan tenda tambahan di bagian depan serta sisi kiri dan kanan gereja,” tutupnya. (*/dip/lim)

Editor : Azward Halim