MALINAU – Upaya pemulihan akses transportasi sungai bagi masyarakat di pedalaman Kecamatan Pujungan dan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, telah rampung dan kini kembali normal.
Pemulihan ini menjadi prioritas pemerintah daerah guna memastikan distribusi barang kebutuhan pokok tidak terhambat menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Malinau, Iwan Dharma Yuana, memastikan bahwa proses peledakan batu giram yang menghambat alur Sungai Bahau Hulu telah selesai sepenuhnya.
“Untuk peledakan giram itu kami anggap sudah selesai. Batu-batu besar yang sebelumnya menghalangi alur sungai dan mengubah jalur air sudah berhasil diledakkan,” ujarnya Kepada Radar Tarakan, Senin (8/12).
Ia menjelaskan, dari target awal sepuluh batu giram, sebanyak sembilan titik berhasil ditangani dan dinilai sudah cukup untuk membuka kembali jalur sungai.
Sementara satu titik lainnya tidak dilanjutkan karena berada tepat di tengah sungai dan dinilai sangat berisiko bagi keselamatan tim peledakan.
“Yang satu itu posisinya betul-betul di tengah sungai, tingkat kesulitannya tinggi dan sangat membahayakan. Dengan sembilan titik yang sudah diledakkan, jalur sungai sudah aman dan dapat dilewati,” jelasnya.
BPBD Malinau juga telah melakukan monitoring langsung ke lokasi. Bahkan, pada saat air sungai dalam kondisi kecil, jalur tersebut tetap dapat dilalui.
“Kami bersama rombongan, termasuk Pak Sekda, terakhir naik ke sana tanggal 3 November. Waktu itu kondisi air kecil, tapi tetap bisa dilewati,” tambahnya.
Proses peledakan melibatkan tim gabungan yang terdiri dari Yonzipur 17/Ananta Dharma sebagai tim utama, didukung Kodam VI/Mulawarman, Kodim 0910/Malinau, serta BPBD Malinau.
Meski jalur sungai dinyatakan aman, BPBD tetap melakukan pemantauan intensif. Hal ini dilakukan mengingat masih adanya potensi longsor, terutama dari anak sungai di sekitar lokasi giram, jika intensitas hujan meningkat.
“BPBD tetap memantau, karena di dekat lokasi giram baru itu juga telah dibangun rumah singgah sebagai fasilitas pendukung bagi masyarakat,” katanya.
Terkait akses darat, rencana awal pembangunan jalan dengan semenisasi tidak dapat dilanjutkan karena kontur tebing sungai yang mudah runtuh. Sebagai solusi, dibuat jalan alternatif dengan posisi yang lebih tinggi dan aman.
“Saat ini yang paling aman adalah jalur alternatif dan rumah singgah. Sudah beberapa kali dilakukan uji coba dan tidak ada laporan kendala. Terakhir digunakan rombongan Irau, semuanya aman tanpa masalah,” tegasnya.
Dengan kondisi tersebut, BPBD Malinau memastikan akses transportasi, baik sungai maupun jalur alternatif, kini 100 persen aman dan siap mendukung mobilitas masyarakat serta kelancaran distribusi logistik ke wilayah pedalaman. (*dip)
Editor : Azwar Halim