0 Kaltara Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Hari ke-14 FBI: Lembaga Adat Dayak Sa’ban Tampilkan Ragam Seni dari Aroh'Meh Hingga Puwel Gulat Dayak

Dip Ratar • Senin, 20 Oktober 2025 | 14:57 WIB

 

DIPA/RADAR TARAKAN TRADISI: Atraksi Puwel olahraga gulat tradisional yang dulu dilakukan di sungai
DIPA/RADAR TARAKAN TRADISI: Atraksi Puwel olahraga gulat tradisional yang dulu dilakukan di sungai

MALINAU — Festival Budaya Irau ke-11 dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-26 Kabupaten Malinau kembali menampilkan kekayaan budaya dari berbagai suku asli yang mendiami Bumi Intimung.

Pada hari ke-14 pelaksanaan festival, Lembaga Adat Dayak Sa’ban Kabupaten Malinau tampil memukau dengan beragam pagelaran seni, tarian, dan permainan tradisional yang sarat makna budaya dan nilai-nilai kehidupan.

Dalam sambutannya, Ketua Lembaga Adat Dayak Sa’ban Kabupaten Malinau, Jhonson menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada masyarakat Sa’ban untuk turut memeriahkan Festival Budaya Irau tahun ini.

"Sehingga kita kembali lagi berkumpul di tempat ini dalam rangka mengikuti seni budaya Dayak Sa’ban Kabupaten Malinau. Oleh karena itu, saya atas nama seluruh warga Sa’ban mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Malinau yang telah memberikan ruang dan gerak seluas-luasnya kepada masyarakat Sa’ban untuk menampilkan seni dan budaya pada hari ini," ujar Jhonson.

Acara dimulai dengan penampilan Tarian Aro’ Meh oleh Sanggar Tari Sa’ban Lubak Manis. Tarian ini menggambarkan prosesi Tari Buka Ladang, sebuah ritual sakral masyarakat Dayak Sa’ban sebelum musim berladang dimulai.

Bagi masyarakat Sa’ban, membuka ladang bukan sekadar kegiatan fisik, tetapi perjalanan spiritual untuk memohon restu kepada Sang Pencipta agar diberi kesuburan, hasil panen yang melimpah, dan dijauhkan dari gangguan alam.

Gerak lembut para penari menggambarkan kerendahan hati dan rasa syukur atas karunia kehidupan, diiringi musik tradisional yang menghadirkan suasana khidmat namun penuh semangat kebersamaan.

Penampilan berikutnya adalah upacara adat Maleun Apui Leu’ atau Menghidupkan Korek Bambu. Ritual ini memperlihatkan cara masyarakat Dayak Sa’ban zaman dahulu menyalakan api menggunakan bambu, batu, dan serat alami, sebelum ditemukannya korek api modern.

Dalam upacara ini, beberapa warga Sa’ban berlomba menyalakan api dengan alat tradisional tersebut, memperlihatkan keterampilan dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Melalui kegiatan ini, Lembaga Adat Sa’ban ingin menanamkan kembali pengetahuan budaya kepada generasi muda agar tidak melupakan warisan leluhur.

Selanjutnya, tampil Tarian Arang Tawak yang dibawakan oleh Sanggar Tari Desa Long Billa di bawah binaan Ketua Adat Yohanes. Tarian ini menggambarkan semangat kebersamaan, gotong royong, dan keharmonisan dengan alam.

Dengan iringan musik tradisional gong atau tawak, para penari mempersembahkan gerakan gagah dan harmonis yang melambangkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, serta kebijaksanaan dalam bermasyarakat.

Selain tarian dan ritual adat, masyarakat Sa’ban juga menampilkan dua permainan tradisional khas, yakni gasing dan puwel.

Permainan gasing menjadi simbol keseimbangan hidup dan ketekunan, sementara puwel olahraga gulat tradisional yang dulu dilakukan di sungai menggambarkan semangat ketangguhan, kekuatan, dan sportivitas pemuda Sa’ban.

Kini, permainan tersebut masih lestari dan dilakukan di darat sebagai ajang hiburan dan persahabatan antarwarga.

Sebagai penutup, Sanggar Ka’bo Seni Tari Dayak Sa’ban menampilkan Tarian Arang Wei Yat, yang berarti menjernihkan pikiran. Tarian ini merupakan bentuk doa dan harapan agar setiap individu senantiasa berpikiran positif, berjiwa bersih, dan hidup selaras dengan alam serta sesama.

Gerakan lembut dan simbolik dalam tarian ini mencerminkan filosofi kehidupan masyarakat Sa’ban yaitu keseimbangan, kebijaksanaan, dan kedamaian sebagai dasar dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Jhonson juga menjelaskan bahwa apa yang ditampilkan oleh masyarakat Sa’ban sesungguhnya merupakan cerminan dari budaya Dayak secara umum.

"Apa yang akan kami tampilkan sebenarnya adalah budaya Dayak pada umumnya. Apalagi kalau kita melihat ada gulat tradisional sebenarnya bukan hanya milik Sa’ban, tetapi ini merupakan permainan rakyat oleh semua suku Dayak. Demikian pula permainan gasing, ini juga permainan kita semua, termasuk berbagai tarian dan sebagainya. Mungkin hanya dalam kemasannya saja yang memberi sedikit perbedaan," jelasnya.

Pagelaran seni budaya oleh Lembaga Adat Dayak Sa’ban dalam Festival Budaya Irau ke-11 ini bukan sekadar hiburan, melainkan wujud nyata pelestarian identitas dan warisan leluhur.

Melalui tarian, permainan, dan ritual adat, masyarakat Sa’ban mengingatkan generasi muda akan pentingnya menjaga kearifan lokal serta memperkuat rasa persaudaraan dan kebanggaan terhadap budaya daerah. (*dip)

Editor : Azwar Halim
#fbi #kaltara #Lembaga Adat Dayak #malinau #Puwel Gulat Dayak #Ragam Seni