Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Lembaga Adat Bulungan Tampilkan Tradisi Adat Perkawinan di Hari ke-10 Festival Budaya Irau

Dip Ratar • Kamis, 16 Oktober 2025 | 17:03 WIB
DIPA/RADAR TARAKAN ADAT: Bupati Wempi saat melakukan prosesi pupuran kepada mempelai pria dalam budaya Adat Bulungan
DIPA/RADAR TARAKAN ADAT: Bupati Wempi saat melakukan prosesi pupuran kepada mempelai pria dalam budaya Adat Bulungan

MALINAU – Gelaran Festival Budaya Irau 2025 semakin meriah memasuki hari ke-10. Pada kesempatan ini, Lembaga Adat Bulungan menghadirkan penampilan budaya yang sarat nilai sejarah dan filosofi, yaitu Cerita Tradisi Adat Istiadat Perkawinan Bulungan beserta prosesi adat Lungkap Tabir atau buka tirai.

Penampilan ini berhasil memikat perhatian pengunjung karena menyajikan rangkaian adat pernikahan tradisional Bulungan secara lengkap dan penuh makna.

Prosesi adat perkawinan yang ditampilkan diawali dengan tahapan Berseruan (melamar) yang menggambarkan proses awal lamaran pihak laki-laki kepada pihak perempuan sebagai bentuk ikatan silaturahmi dan niat mempersunting. Dalam tradisi ini, keluarga laki-laki menyerahkan seloham emas sebagai tanda pengikat janji.

Tahapan dilanjutkan dengan Berkumpol Ngempada, yaitu musyawarah keluarga besar untuk saling membantu meringankan beban dalam memenuhi persyaratan adat perkawinan. Nilai kebersamaan dan gotong royong terlihat kuat dalam tradisi ini.

Kemudian dilanjutkan dengan Ngantot Tanda dan Ngantot Sangot (antar jujoran), yakni penyerahan cincin atau logam emas sebagai tanda pertunangan, serta penyerahan jujoran atau mas kawin sebagai bentuk tanggung jawab pihak laki-laki terhadap keluarga perempuan.

Malam sebelum akad nikah, digelar rangkaian Malom Berupur (malam pupuran) sebagai malam adat yang diisi dengan doa, seni tradisional jepen, serta prosesi pupuran yang dilakukan oleh keluarga dan sesepuh sebagai simbol restu.

Acara adat mencapai puncaknya pada Akad Nikah, yang dilaksanakan secara resmi menurut ajaran agama dan adat, disaksikan enam orang saksi dari masing-masing pihak keluarga. Usai ijab kabul, kedua mempelai memohon restu orang tua sebelum dipersandingkan sebagai raja sehari.

Yang menjadi sorotan utama adalah penampilan Lungkap Tabir (Buka Tirai), tradisi khas Bulungan yang sarat simbol perjuangan dan tanggung jawab seorang laki-laki sebelum bertemu mempelai perempuan.

Prosesi ini dilakukan dengan membuka tujuh lapisan tirai yang masing-masing dijaga oleh perwakilan keluarga perempuan dan setiap lapisan memiliki syarat tertentu yang harus dipenuhi pihak laki-laki.

Ketua Lembaga Adat Bulungan Malinau, Datu Misrah, mengungkapkan bahwa tradisi ini menggambarkan ujian kesungguhan seorang pria dalam meminang serta menjadi simbol kehormatan keluarga.

Meski kerap berlangsung penuh ketegangan karena proses tawar-menawar adat, namun nilai kekeluargaan, musyawarah, dan saling menghormati tetap dijunjung tinggi dalam pelaksanaannya.

"Asal mula Lungkap Tabir berasal dari kisah kerajaan pada masa lampau, ketika seseorang harus melewati berbagai gerbang dan tantangan sebelum dapat bertemu raja atau ratu. Nilai historis itulah yang kini kami wariskan dalam tradisi perkawinan adat Bulungan," jelas Datu Misrah.

Kehadiran tradisi adat perkawinan Bulungan di Festival Irau tak hanya menjadi tontonan budaya, tetapi juga sarana edukasi untuk mengenalkan nilai adat dan kearifan lokal kepada generasi muda. (*dip)

Editor : Azwar Halim
#festival irau #kaltara #malinau