MALINAU – Suku Dayak Tenggalan berhasil mencatat sejarah pada pelaksanaan Festival Budaya Irau ke-11 Kabupaten Malinau 2025 dengan membuat kalong terbesar di dunia.
Kalong merupakan tas gendong tradisional khas masyarakat Dayak yang terbuat dari anyaman rotan. Karya budaya raksasa ini diajukan untuk mendapatkan rekor dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Ketua Lembaga Adat Suku Dayak Tenggalan, Kursani, menjelaskan bahwa proses pembuatan kalong raksasa tersebut dilakukan melalui kerja sama dan gotong royong seluruh masyarakat adat.
"Pembuatannya ini melalui perkumpulan masyarakat, diskusi, setelah itu baru menarik rotan dari hutan. Rotannya dikumpulkan dulu, baru dianyam sampai jadi besar seperti ini. Lama pembuatannya dua minggu secara gotong royong," jelas Kursani.
Kalong raksasa yang dibuat memiliki tinggi 4 meter dan lebar 1,5 meter. Ukurannya jauh lebih besar dibanding kalong tradisional yang biasa digunakan masyarakat.
"Ini namanya Kalong Mayo, seperti begang besar. Biasanya kalong ukurannya kecil untuk dipakai sehari-hari. Tapi karena ini untuk rekor MURI, kami buat sebesar-besarnya. Tentu tidak mungkin digendong karena ukurannya memang untuk pemecahan rekor," tambah Kursani.
Lebih lanjut, Kursani menceritakan bahwa kalong memiliki nilai historis dan budaya yang kuat bagi masyarakat Dayak Tenggalan. Dahulu, kalong digunakan untuk mengangkut hasil ladang seperti ubi makanan pokok masyarakat Tenggalan.
"Dulu kalong dipakai orang tua kami untuk menggendong ubi. Ubi itu makanan pokok kami. Dari kebun dibawa pulang pakai kalong, lalu diparut dan diperas menjadi sagu. Selain itu juga dipakai untuk mengangkut kayu bakar atau membawa bekal saat masuk hutan mencari gaharu," terangnya.
Kalong raksasa ini terbuat sepenuhnya dari rotan yang diambil langsung dari hutan sekitar wilayah adat mereka. Kursani berharap karya budaya ini tidak hanya mencatatkan rekor, tetapi juga menjadi simbol pelestarian budaya Dayak Tenggalan.
"Kalau MURI menerima ini, berarti ini penghargaan kedua bagi kami. Dulu kami pernah dapat rekor MURI sendok tempurung. Semoga ini juga bisa dapat lagi," katanya.
Pembuatan kalong terbesar ini menjadi salah satu daya tarik utama Festival Budaya Irau ke-11 yang terus menghadirkan kreativitas, tradisi, dan kebersamaan masyarakat adat di Kalimantan Utara. (*dip)
Editor : Azwar Halim