Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Meliwa: Warisan Adat Penyatu Sub Suku Dayak Kenyah Tampil di Festival Budaya Irau

Dip Ratar • Minggu, 12 Oktober 2025 | 16:47 WIB
DIPA/RADAR TARAKAN MELIWA: Prosesi penggantungan Berebu yang telah dilumuri darah hewan
DIPA/RADAR TARAKAN MELIWA: Prosesi penggantungan Berebu yang telah dilumuri darah hewan

MALINAU – Festival Budaya Irau ke-11 Kabupaten Malinau tahun 2025 memasuki hari kelima pelaksanaannya. Suasana semakin khidmat ketika upacara adat sakral Meliwa dari Suku Dayak Kenyah dipentaskan di hadapan masyarakat dan tamu undangan.

Tradisi yang sangat dijunjung tinggi ini bukan sekadar atraksi budaya, tetapi memiliki makna spiritual dan sosial yang dalam sebagai warisan leluhur untuk mendamaikan kelompok yang berselisih.

Upacara Meliwa sejak dahulu dikenal sebagai ritual sakral Dayak Kenyah yang berfungsi untuk menyucikan diri dan menyatukan pihak yang berseteru.

Pada masa lalu, kehidupan masyarakat Dayak tidak terlepas dari peperangan antarkampung, konflik antar sub suku, hingga praktik ngayau atau pengayauan.

Nilai kemanusiaan mulai ditegakkan melalui tradisi Meliwa yang menghadirkan perdamaian melalui kesepakatan adat yang mengikat seumur hidup. Siapa pun yang melanggar perjanjian adat setelah pelaksanaan Meliwa diyakini akan mendapatkan sanksi adat dan konsekuensi moral.

Atraksi Meliwa di panggung Irau menggambarkan suasana konflik yang memanas antara dua kelompok.

Ketika ketegangan mencapai puncak, seorang tokoh sakral adat hadir membawa petuah damai yang menggema dan menyadarkan hati semua pihak.

Setelah pesan adat disampaikan, kedua kelompok berdamai dan menyatakan sumpah adat untuk menghentikan permusuhan. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan penggunaan darah babi sebagai simbol pembersihan diri dan rekonsiliasi.

Dalam tradisi aslinya, darah binatang tersebut diminum bersama sebagai sumpah perdamaian. Namun dalam pelaksanaan atraksi festival, darah cukup dioleskan sebagai simbolisasi tanpa mengurangi kesakralan makna adat yang terkandung di dalamnya.

Pelaksanaan atraksi Meliwa pada Festival Irau ke-11 tahun 2025 dipandu oleh tokoh adat terkenal dari Desa Wisata Setulang, Amai Pelius, sedangkan koordinasi upacara adat dipimpin oleh Amai Padan Impung.

Upacara adat ini dilaksanakan atas persetujuan 11 ketua sub suku Dayak Kenyah se-Kabupaten Malinau dan mendapatkan dukungan penuh dari Lembaga Adat Besar Dayak Kenyah bersama seluruh masyarakat Dayak Kenyah di Malinau.

Koordinator upacara adat, Amai Padan Impung menjelaskan, bahwa esensi Meliwa adalah menghentikan kekacauan dan memulihkan hubungan sosial dalam masyarakat. "Meliwa adalah janji damai yang tidak dapat diganggu gugat.

Setelah Meliwa dilakukan, tidak ada lagi yang berhak menuntut balas atau memulai konflik baru, karena pelanggaran terhadap sumpah adat akan membawa akibat buruk bagi pelanggarnya," jelasnya.

Melalui penampilan Meliwa di Festival Irau ke-11, masyarakat luas kembali diingatkan bahwa adat Dayak bukan budaya kekerasan, melainkan budaya yang menjunjung tinggi perdamaian, kehormatan, dan persatuan. Meliwa menjadi bukti bahwa nilai-nilai leluhur Dayak Kenyah masih hidup dan diwariskan kepada generasi muda sebagai pegangan dalam menjaga kerukunan dan identitas budaya. (*dip)

Editor : Azwar Halim
#kaltara #malinau #Festival Irau Malinau #suku dayak