Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Penuh Nilai Budaya, Tradisi Perkawinan Adat Tidung Tampil di Festival Budaya Irau

Dip Ratar • Kamis, 9 Oktober 2025 | 16:47 WIB
DIPA/RADAR TARAKAN TRADISI: Prosesi Beseruan dan Ngatode De Pulut tampil di Irau ke-11 pada hari ketiga
DIPA/RADAR TARAKAN TRADISI: Prosesi Beseruan dan Ngatode De Pulut tampil di Irau ke-11 pada hari ketiga

MALINAU – Salah satu tradisi penting dalam adat pernikahan suku Tidung tampil memukau pada hari ketiga Festival Budaya Irau ke-11 Kabupaten Malinau. Tradisi tersebut adalah Beseruan dan Ngatode de Pulut, yang menggambarkan proses lamaran hingga hantaran dalam adat perkawinan masyarakat Tidung.

Atraksi budaya itu dibawakan secara langsung oleh Lembaga Adat Besar Tidung Kabupaten Malinau di Panggung Utama Padan Liu Burung. Prosesi berlangsung khidmat namun tetap sarat hiburan, karena dikemas melalui dialog adat yang disampaikan dengan pantun khas Tidung.

Samsul selaku Sekretaris Umum Lembaga Adat Besar Tidung Kabupaten Malinau dan Koordinator Adat Seni dan Budaya Irau ke-11 menjelaskan bahwa atraksi yang ditampilkan merupakan bagian dari rangkaian adat perkawinan Tidung yang diwariskan turun-temurun.

"Yang di tampilkan hari ini adalah Beseruan atau proses lamaran dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Dalam prosesi itu terjadi kesepakatan adat, termasuk membicarakan syarat pernikahan," jelasnya.

Dalam pertunjukan tersebut, pihak keluarga calon mempelai laki-laki dan perempuan duduk saling berhadapan.

Di hadapan tetua adat dan saksi keluarga, kedua belah pihak berunding secara adat. Hasilnya, disepakati standar biaya pernikahan sebesar Rp 100 juta, lengkap dengan perlengkapan rumah tangga seperti dapur, tempat tidur, dan kebutuhan lainnya.

Usai Beseruan, tradisi dilanjutkan dengan Ngatode de Pulut atau yang juga dikenal dengan sebutan ngaton belanja. Pada prosesi ini, pihak laki-laki membawa berbagai perlengkapan sebagai bentuk kesungguhan dan tanggung jawab kepada pihak perempuan.

"Hantaran yang dibawa tadi berupa seperangkat alat salat, alat mandi, alat tidur, hingga perlengkapan pribadi. Semua itu sebagai simbol bahwa pihak laki-laki sudah siap berumah tangga," ujarnya.

Hal yang membuat pertunjukan semakin menarik perhatian penonton adalah penggunaan pantun dalam hampir seluruh prosesi adat. Pantun menjadi media tutur untuk merangkai pesan, perundingan, bahkan tawar-menawar antar keluarga kedua belah pihak.

"Identik dengan pantun, itu memang ciri adat kami. Tapi kali ini lebih kreatif. Semua disampaikan dengan pantun oleh Pak Yusuf selaku sutradara atraksi, sehingga tampil lebih hidup dan segar," tambahnya.

Samsul mengatakan bahwa atraksi hari ini baru sebagian kecil dari rangkaian adat pernikahan suku Tidung. Rangkaian berikutnya akan kembali dipersembahkan pada acara Irau mendatang sebagai upaya melestarikan adat dan budaya lokal.

"Ini wujud kami dalam menjaga adat Tidung tetap lestari, tidak hilang ditelan zaman," tutupnya. (*dip)

Editor : Azwar Halim
#festival irau #kaltara #malinau #Tradisi Perkawinan Adat Tidung