Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Kuliner Ekstrem Warisan Leluhur di Malinau, Menggunakan Bahan Dari Kulit Fermentasi hingga Isi Perut Primata

Radar Tarakan • Senin, 16 Juni 2025 | 18:07 WIB
DIPA/RADAR TARAKAN KHAS: Bu
DIPA/RADAR TARAKAN KHAS: Bu

 

MALINAU – Dalam gelaran peresmian Desa Budaya yang diadakan di Desa Tanjung Keranjang, berbagai makanan tradisional masyarakat Dayak Kenyah Desa Tanjung Keranjang disuguhkan.

Tak hanya lezat, beberapa di antaranya bahkan dianggap ekstrem karena proses pembuatannya yang unik dan bahan-bahan yang tak lazim di masyarakat umum.

Salah satu sajian yang menarik perhatian adalah Adam Anit, yakni masakan yang berbahan dasar kulit binatang seperti kulit sapi, babi hutan, atau rusa (payau) yang difermentasi secara alami hingga membusuk.

Setelah dibersihkan dan direbus, kulit tersebut dimasak bersama daun ubi untuk menghasilkan hidangan khas dengan aroma menyengat yang menjadi ciri utamanya.

Yusak Ifung, tokoh adat dari Desa Tanjung Keranjang menjelaskan bahwa masakan ini merupakan favorit orang-orang tua pada zaman dahulu dan biasa disajikan saat panen raya atau pesta adat.

"Adam itu berarti busuk, anit itu kulit. Jadi Adam Anit itu artinya kulit yang dibusukkan," jelasnya.

Tak kalah ekstrem adalah Buduk Atuk, makanan yang dibuat dari ikan lele yang sengaja dibusukkan terlebih dahulu. Setelah membusuk, daging ikan diperas dan dimasak kembali. Bau khas yang menyengat justru menjadi daya tarik tersendiri.

Ada pula Lekay Fazang, sejenis sayur yang dibuat dari biji-bijian seperti kacang-kacangan yang difermentasi di para-para (rak kayu tradisional).

Setelah cukup lama, biji tersebut dimasak menjadi sayur khas yang lazim disantap dalam suasana santai.

Makanan ekstrem lainnya adalah Bu’de yaitu isi perut hewan primata atau hewan sejenis monyet yang disebut bangat, bu'de dibuat dari isi usus halus kemudian dimasak menjadi sajian khas.

Selain itu, terdapat pula makanan berbahan pakis merah (Lekay Pahu Bala) dan daun keladi (Lekay Itit), serta bubur tradisional (Lekay Bulit) yang disajikan saat acara adat atau sebagai sajian santai selepas panen.

"Kalau habis panen, pesta syukuran itu saat yang tepat. Di situlah semua makanan khas seperti ini akan disajikan," ujar Yusak.

Kehadiran makanan-makanan ini bukan sekadar memenuhi perut, tapi juga menyimpan kisah dan filosofi hidup masyarakat Dayak Kenyah bagaimana mereka hidup selaras dengan alam dan membuat sejarah budaya yang terus di lestarikan. (*dip)

Editor : Azwar Halim
#kaltara #kuliner malinau