masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang memerlukan perhatian serius di Indonesia. Selain jumlah penderitanya yang terus bertambah, penanganan penyakit ini juga masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterlambatan diagnosis, rendahnya kepatuhan menjalani pengobatan, hingga kurangnya pendampingan untuk menerapkan pola hidup sehat secara konsisten.
Mengacu pada IDF Diabetes Atlas 2025 yang diterbitkan International Diabetes Federation (IDF), Indonesia termasuk dalam jajaran negara dengan jumlah penyandang diabetes terbanyak di dunia.
Sejalan dengan itu, data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan prevalensi diabetes terus mengalami peningkatan dalam kurun waktu sekitar sepuluh tahun terakhir. Apabila tidak dikelola dengan baik, diabetes dapat memicu berbagai komplikasi serius, seperti penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, hingga amputasi.
Para tenaga kesehatan menilai pengelolaan diabetes sebaiknya dilakukan secara komprehensif. Selain terapi obat, pasien juga membutuhkan edukasi mengenai pola makan, pemantauan kondisi kesehatan secara rutin, serta pendampingan untuk menjalani perubahan gaya hidup dalam jangka panjang.
Pendekatan tersebut menjadi dasar pengembangan ekosistem layanan diabetes yang dihadirkan mGanik. Sistem ini menggabungkan layanan medikasi, konsultasi nutrisi, dan pemantauan kesehatan dalam satu rangkaian pendampingan yang terintegrasi.
Dokter sekaligus penggagas ekosistem tersebut, dr. Kelvin Candiago, M.M., MARS., DABRM, mengatakan keberhasilan mengendalikan diabetes tidak hanya ditentukan oleh pemberian obat, tetapi juga oleh penerapan pola hidup sehat yang didukung pemantauan berkelanjutan.
Menurutnya, kolaborasi antara terapi medis, pengaturan nutrisi, dan monitoring yang terintegrasi dapat meningkatkan peluang pasien untuk mencapai pengelolaan diabetes yang lebih baik, bahkan membuka peluang terjadinya remisi pada sebagian kasus.
Editor : Rahul