SAMARINDA – Tanggul penahan limbah yang sempat bocor kini telah dibangun kembali. Keberadaan tanggul tersebut sangat penting untuk mengatasi berbagai permasalahan sebelumnya, terutama mencegah aliran limbah masuk ke saluran irigasi pertanian warga di Kelurahan Makroman.
Kepala Pelaksana Tugas BPBD Samarinda, Suwarso, mengungkapkan bahwa sebanyak 200 pot rumput vetiver telah ditanam sebagai langkah untuk memperkuat tanggul yang baru dibangun.
"Penanaman ini merupakan bagian dari upaya pengurangan risiko bencana. Tanaman vetiver berfungsi memperkuat tanggul yang telah dibuat oleh tim PUPR Samarinda," ujarnya pada Rabu (1/1).
Secara terpisah, Pengawas TPA Sambutan, Edy Zulkarnain, menyampaikan bahwa luas area TPA Sambutan yang telah dipenuhi sampah mencapai 2,5 hektare. Sekitar 60 persen sampah tersebut berjenis organik, yang berarti sampah rumah tangga mendominasi.
"Dalam satu hari, TPA Sambutan menerima sekitar 600 ton sampah. Kabarnya, dalam waktu dekat akan ada incinerator, alat pembakar sampah yang diharapkan dapat mengurangi penumpukan sampah di sini," pungkasnya.
Sebelumnya, Ketua Kelompok Tani Tunas Muda, Baharudin, menyampaikan bahwa masalah ini bukan hal baru. Keluhan resmi telah diajukan kepada pemerintah kecamatan sejak Februari-Maret 2024.
“Kami sudah meninjau bersama, dan hasilnya menunjukkan limbah dari TPA mengalir ke danau serta irigasi petani karena tidak dikelola dengan baik,” ujar Baharudin, Kamis (12/12) silam.
Sebelum keluhan dilayangkan, sejumlah warga mengalami gatal-gatal setelah menggunakan air bekas galian tambang. Dampak ini juga dirasakan pada ekosistem sekitar, seperti ikan nila yang mati di danau akibat tercemar limbah.
“Jangankan manusia, ikan saja mati. Kami sudah dengar akan dibangun tanggul, dan kami setuju. Tapi, tanggul itu harus sesuai—tinggi dan lebarnya harus cukup untuk menampung limbah agar tidak meluap,” tegas Baharudin.
Selain itu, aroma tak sedap menjadi masalah yang terus mengganggu. Baharudin menyebut, bau dari TPA ini tidak hanya menyelimuti Kelurahan Makroman tetapi juga menyebar hingga Sindang Sari.
“Kalau kami sudah biasa menghirup bau ini, tapi warga lain pasti merasa terganggu. Penyebabnya, sampah yang tidak terkelola dengan baik, sehingga menumpuk dan menghasilkan bau tak sedap,” tambahnya. (kpg/jnr)
Editor : Azwar Halim