Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Perempuan Didorong Jadi Motor Perhutanan Sosial, Pemprov Kaltara Bidik Penurunan Stunting dan Kemiskinan

Iwan RT • Jumat, 24 April 2026 | 07:43 WIB
Staf Ahli Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Hubungan Antar Lembaga Setprov Kaltara, Wahyuni Nuzband. FOTO: DKISP KALTARA
Staf Ahli Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Hubungan Antar Lembaga Setprov Kaltara, Wahyuni Nuzband. FOTO: DKISP KALTARA

TANJUNG SELOR - Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara mulai mendorong peran perempuan sebagai penggerak utama dalam pengelolaan perhutanan sosial. Langkah ini tidak hanya ditujukan untuk memperkuat ekonomi komunitas, tetapi juga diarahkan pada isu yang lebih luas, mulai dari penurunan angka stunting hingga pengentasan kemiskinan.

Upaya tersebut mengemuka dalam kegiatan pengelolaan dan penguatan ekonomi komunitas berbasis perempuan pada sektor perhutanan sosial yang digelar di Tanjung Selor, Selasa (21/4).

Staf Ahli Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Hubungan Antar Lembaga Setprov Kaltara, Wahyuni Nuzband, menegaskan bahwa perhutanan sosial tidak bisa lagi dipandang semata sebagai pengelolaan sumber daya alam.

“Di dalamnya bukan hanya ada potensi hutan, tetapi juga potensi sumber daya manusia, terutama perempuan,” ujarnya.

Menurutnya, perempuan memiliki peran strategis, tidak hanya dalam menjaga keberlanjutan hutan, tetapi juga dalam mengolah hasil hutan menjadi produk bernilai ekonomi. Mulai dari kerajinan rotan hingga produk olahan seperti cokelat dan selai, menjadi contoh konkret kontribusi tersebut.

Pendekatan ini dinilai mampu menciptakan nilai tambah di tingkat lokal sekaligus memperkuat ekonomi keluarga. Dalam jangka panjang, intervensi tersebut diharapkan berdampak pada penurunan stunting, yang kerap berkaitan dengan kondisi ekonomi rumah tangga, serta mengurangi angka kemiskinan.

Sebagai bagian dari implementasi, Yayasan Pionir akan melakukan pendampingan di 10 desa dalam waktu dekat. Meski jumlahnya terbatas, program ini diproyeksikan menjadi model percontohan untuk pengembangan di wilayah lain.

“Harapannya, desa-desa ini bisa menjadi contoh. Nantinya akan ada kolaborasi dengan mitra usaha untuk mendukung pembiayaan pemberdayaan perempuan dalam perhutanan sosial,” jelasnya.

Langkah ini menunjukkan bahwa pengelolaan hutan tidak lagi hanya berorientasi pada konservasi, tetapi juga mulai diarahkan sebagai instrumen pembangunan sosial-ekonomi dengan perempuan sebagai aktor kunci di dalamnya. (iwk/lim)

Editor : Azward Halim
#kaltara