Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

QRIS Melejit di Kaltara, Tantangan Baru Literasi dan Ketergantungan Digital

Iwan RT • Selasa, 21 April 2026 | 05:40 WIB
Kepala KPw BI Kaltara, Hasiando G Manik. FOTO: IWAN K/RADAR TARAKAN
Kepala KPw BI Kaltara, Hasiando G Manik. FOTO: IWAN K/RADAR TARAKAN

TANJUNG SELOR - Lonjakan penggunaan pembayaran digital di Kalimantan Utara (Kaltara) menunjukkan perubahan besar dalam pola transaksi masyarakat. Namun di balik pertumbuhan pesat itu, muncul tantangan baru, kesiapan literasi digital dan risiko ketergantungan sistem nontunai.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kaltara, Hasiando G Manik, mengungkapkan bahwa penggunaan QRIS mengalami lonjakan signifikan sepanjang 2025, bahkan melampaui 100 persen baik dari sisi volume transaksi maupun jumlah pengguna.

“Perkembangannya sangat pesat. Tahun 2025 naiknya lebih dari 100 persen,” ujarnya, Jumat (17/4).

Fenomena ini menunjukkan percepatan adopsi digital di daerah yang sebelumnya identik dengan transaksi tunai. Kini, tidak hanya sektor formal, pelaku usaha kecil hingga warung pinggir jalan mulai beralih menerima pembayaran nontunai.

Di kawasan tepian Sungai Kayan, misalnya, pelaku UMKM sudah memanfaatkan QRIS sebagai metode transaksi sehari-hari. Perubahan ini menandakan digitalisasi ekonomi mulai merata hingga ke lapisan paling bawah.

Namun, di tengah euforia tersebut, muncul pertanyaan krusial, apakah pertumbuhan ini diiringi dengan kesiapan masyarakat dalam memahami risiko dan keamanan transaksi digital?

Bank Indonesia mengakui bahwa percepatan ini harus diimbangi dengan edukasi yang masif. Sosialisasi terus dilakukan, termasuk menyasar ruang publik seperti pasar dan pelabuhan, untuk memastikan masyarakat tidak hanya menggunakan, tetapi juga memahami sistem pembayaran digital secara utuh.

“Ini harus kita dorong bersama, agar penggunaan uang tunai bisa dikurangi,” jelasnya.

Di sisi lain, pengurangan transaksi tunai juga dinilai sebagai langkah mitigasi risiko, mengingat penyimpanan uang fisik dalam jumlah besar rawan terhadap tindak kejahatan.

Meski demikian, ketergantungan pada sistem digital juga membawa potensi risiko baru, mulai dari gangguan jaringan, keamanan data, hingga kerentanan terhadap penipuan digital yang semakin marak.

Dengan tren yang terus meningkat, tantangan ke depan bukan lagi soal adopsi, melainkan bagaimana memastikan transformasi digital ini berjalan aman, inklusif, dan tidak meninggalkan kelompok masyarakat yang belum sepenuhnya melek teknologi. (iwk/lim)

 

 

Editor : Azward Halim
#kaltara