Wastra Bulungan Bersinar di Panggung Nasional, Rahmawati Tampil di Kriyanusa 2026

Taslee • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 08:03 WIB
PROMOSI DAERAH: Ketua Dekranasda Kaltara, Hj. Rahmawati Zainal, mempromosikan wastra Bulungan di kancah nasional.
(Taslee/Radar Tarakan)
PROMOSI DAERAH: Ketua Dekranasda Kaltara, Hj. Rahmawati Zainal, mempromosikan wastra Bulungan di kancah nasional. (Taslee/Radar Tarakan)

 

 

TANJUNG SELOR – Wastra khas Bulungan kembali dibawa ke panggung nasional.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kalimantan Utara (Kaltara), Hj. Rahmawati Zainal, S.H., tampil dalam Parade Wastra pada rangkaian Pameran Kerajinan Nusantara (Kriyanusa) 2026 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Rabu (30/9/2026).

Rahmawati mengenakan busana berbahan batik bermotif khas Bulungan yang dipadukan dengan topi khas Dayak.

Penampilan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan identitas budaya Kaltara sekaligus mendorong wastra daerah agar semakin dikenal di tingkat nasional.

Parade Wastra Kriyanusa 2026 diikuti 32 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Para peserta menampilkan beragam kreasi yang memadukan kekayaan tradisional dengan sentuhan modern.

Bagi Kaltara, keikutsertaan tersebut tidak sekadar menampilkan busana.

Wastra juga menjadi bagian dari strategi promosi produk kerajinan daerah yang memiliki potensi ekonomi, khususnya bagi para perajin dan pelaku UMKM.

Kriyanusa 2026 mengusung tema “Cipta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia” dan berlangsung pada 26–30 September 2026.

Pameran tersebut menghadirkan 410 stan dengan melibatkan 257 peserta yang terdiri atas Dekranas, Dekranasda, kementerian dan lembaga, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Rangkaian Kriyanusa 2026 ditutup Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian.

Dalam sambutannya, Tito menekankan pentingnya pengembangan sektor kerajinan Indonesia agar tidak hanya menjadi bagian dari pelestarian budaya, tetapi juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

“Potensi kerajinan Indonesia sangat besar. Karena itu, harus terus dikembangkan agar semakin bernilai dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Tito.

Kehadiran Rahmawati menjadi momentum bagi Kaltara untuk menunjukkan bahwa kekayaan budaya daerah dapat dikembangkan menjadi produk kreatif bernilai ekonomi.

Motif khas Bulungan dan unsur budaya Dayak yang ditampilkan sekaligus memperkuat identitas lokal di tengah persaingan produk kerajinan nasional.

Promosi di tingkat nasional diharapkan membuka peluang lebih luas bagi wastra Bulungan untuk dikenal masyarakat luar daerah, sekaligus mendorong peningkatan kualitas, inovasi desain, dan pemasaran produk kerajinan lokal.

Dengan demikian, wastra tidak hanya menjadi simbol pelestarian budaya, tetapi juga dapat menjadi bagian dari penguatan ekonomi kreatif dan peningkatan kesejahteraan perajin di Kaltara. (*)

Editor : Sophian Hadi
Kriyanusa 2026 kaltara Rahmawati bulungan