Yonif TP 880/Banuanta Dorong Swasembada Pangan

Fijai RT • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 18:52 WIB
PANEN PADI : Personel Yonif TP 880/Banuanta memanen padi di Desa Apung, Selasa (8/9).
PANEN PADI : Personel Yonif TP 880/Banuanta memanen padi di Desa Apung, Selasa (8/9).

TANJUNG SELOR – Upaya mendukung swasembada pangan mulai diwujudkan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 880/Banuanta melalui pengembangan sektor pertanian dan peternakan. Salah satunya ditandai dengan panen perdana padi di Desa Apung, Bulungan, Selasa (8/9).

Komandan Yonif TP 880/Banuanta, Letkol Inf Khabibur Rosyad mengatakan, kegiatan tersebut tidak semata-mata mengejar hasil produksi. Lebih dari itu, lahan pertanian menjadi sarana bagi prajurit untuk mempelajari proses budidaya sekaligus membangun kemampuan di sektor pangan. “Kami bukan hanya mengejar panennya, tetapi lebih kepada proses mencari ilmu,” kata Khabibur kepada Radar Kaltara, Selasa (8/9).

Dalam pengembangan lahan tersebut, prajurit mendapat pendampingan dari Dinas Pertanian (Disperta) Bulungan maupun jajaran Pemprov Kaltara. Pendampingan tersebut dinilai penting agar prajurit memahami metode pertanian yang tepat sebelum pengembangan dilakukan dalam skala lebih besar. 
“Kami didampingi Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan, termasuk dari provinsi, sehingga bisa saling bersinergi dan bekerja sama,” ungkapnya.

Menurutnya, pengembangan ketahanan pangan di lingkungan Yonif TP 880/Banuanta tidak hanya menyasar tanaman padi. Sejumlah komoditas hortikultura seperti cabai, terong dan tomat juga mulai dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan internal, khususnya dapur umum satuan. “Untuk sementara masih kita penuhi kebutuhan internal karena produksi masih terbatas. Tetapi target ke depan akan kita kembangkan lagi,” bebernya.

Selain pertanian, sektor peternakan dan perikanan juga mulai dikembangkan. Prajurit mencoba budidaya ikan lele serta peternakan ayam petelur. Produksi telur saat ini masih sekitar 100 butir per hari, namun kapasitas tersebut ditargetkan meningkat seiring dengan bertambahnya kemampuan personel dan pengembangan sarana. 
“Produksi telur hari ini baru sekitar 100 butir per hari. Nanti kalau sudah berkembang bisa menjadi 1.000 sampai 2.000 butir per hari,” jelas Khabibur.

Dia menegaskan, pengembangan dalam skala kecil menjadi tahap awal untuk menemukan pola dan formula yang tepat sebelum produksi diperbesar. Pengalaman tersebut nantinya menjadi bekal bagi prajurit ketika harus mengelola lahan dan peternakan dengan kapasitas lebih besar. “Kalau merawat ayam 200 sudah paham, ketika merawat 2.000 tinggal mengalikan prosesnya. Jadi yang kita bangun sekarang adalah kemampuan dan formula yang tepat,” tegasnya.

Khabibur menjelaskan, Yonif TP 880/Banuanta memang tidak hanya dipersiapkan untuk menjalankan tugas pertahanan dan keamanan wilayah. Satuan tersebut juga memiliki peran dalam mendukung program pemerintah, khususnya di bidang ketahanan dan swasembada pangan. 
“Kami memiliki tugas khusus untuk mendukung swasembada pangan. Ke depan, terutama melalui kompi pertanian dan peternakan, kami akan membantu menghasilkan produksi pangan,” katanya.

Komoditas yang dikembangkan pun cukup beragam. Dari sektor pertanian meliputi padi, palawija, cabai, terong, dan tomat. Sementara sektor peternakan mencakup ruminansia, unggas, ayam pedaging, ayam petelur, hingga perikanan. “Kami sedang membangun kemampuan personel di berbagai sektor ketahanan pangan, baik pertanian, peternakan maupun perikanan,” ujarnya.

Untuk saat ini, hasil produksi masih difokuskan memenuhi kebutuhan internal satuan, termasuk kebutuhan dapur umum yang melayani ratusan prajurit. Namun, apabila produksi telah meningkat, hasilnya terbuka untuk dikembangkan guna mendukung program pemerintah lainnya. “Kalau kami bisa memenuhi kebutuhan internal, tentu itu sudah sangat membantu. Ketika nanti produksinya sudah lebih, akan kita dorong untuk mendukung program pemerintah lainnya,” ungkapnya.

Dia menyebut, salah satu opsi pengembangan ke depan adalah menyalurkan hasil produksi melalui program pemerintah maupun jaringan penjualan dengan tetap memperhatikan ketentuan harga yang berlaku. “Misalnya KDKMP maupun disalurkan melalui toko-toko dengan harga sesuai standar pemerintah,” katanya.

Khabibur berharap kemampuan yang dibangun saat ini mulai menunjukkan hasil lebih besar dalam satu hingga dua tahun mendatang. Menurutnya, peningkatan produksi harus diiringi dengan kesiapan personel, sistem pengelolaan, serta sarana pendukung. “Sekarang proses awal kami adalah mencari ilmu, proses dan formula yang tepat. Jadi anggota belajar terlebih dahulu. Ketika diberikan skala lebih besar, mereka sudah paham dan tinggal mengembangkan,” jelasnya.

Selain peternakan ayam, Yonif TP 880/Banuanta juga telah beberapa kali melakukan panen ikan lele. Hasil budidaya tersebut langsung dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dapur satuan. “Semua yang ada sekarang masih prototipe. Kami belajar di beberapa sektor ketahanan pangan, baik pertanian maupun peternakan. Saat ini lingkupnya masih internal,” pungkasnya. (jai)

Editor : Azward Halim
Yonif TP 880/Banuanta swasembada pangan