Zona Merah Karhutla, Kualitas Udara Tanjung Selor Memburuk

Fijai RT • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 12:45 WIB
PANTAUAN PM2.5  : Grafik menunjukkan konsentrasi PM2.5 di Stasiun Meteorologi Tanjung Harapan pada periode 7–13 Agustus 2026.
PANTAUAN PM2.5 : Grafik menunjukkan konsentrasi PM2.5 di Stasiun Meteorologi Tanjung Harapan pada periode 7–13 Agustus 2026.

TANJUNG SELOR – Kualitas udara di Tanjung Selor, Bulungan menunjukkan tren memburuk dalam sepekan terakhir. Kondisi tersebut dipengaruhi minimnya curah hujan selama sekitar sepuluh hari terakhir yang membuat kondisi permukaan lahan semakin kering dan meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Forecaster Stasiun Meteorologi Tanjung Harapan, Farid Hardiansyah mengatakan, penurunan kualitas udara perlu diwaspadai seiring kondisi cuaca yang semakin kering.
“Untuk wilayah Tanjung Selor, kondisi kualitas udara terpantau mengalami tren memburuk selama seminggu terakhir. Kondisi ini dipengaruhi oleh berkurangnya curah hujan di Kabupaten Bulungan selama sepuluh hari terakhir,” kata Farid kepada Radar Kaltara, Kamis (13/8).

Saat ini, kualitas udara Tanjung Selor masih berada pada kategori sedang dengan konsentrasi partikulat 15,6–55,4 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Namun, kondisi tersebut berpotensi mengalami peningkatan apabila curah hujan tetap rendah. “Untuk saat ini masuk dalam zona biru atau sedang, 15,6–55,4 mikrogram per meter kubik,” ungkapnya.

Menurut Farid, potensi curah hujan di wilayah Bulungan dalam sepekan ke depan masih berada pada kategori rendah. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kualitas udara kembali memburuk apabila terjadi kebakaran lahan yang menghasilkan asap.
“Potensi curah hujan seminggu ke depan masih berada dalam kategori rendah, sehingga masih berpotensi terjadi peningkatan polusi udara,” jelasnya.

Penurunan kualitas udara tersebut juga diikuti berkurangnya jarak pandang di Tanjung Selor. Rerata jarak pandang saat ini berada di sekitar 7 kilometer (km), sedangkan kondisi normal biasanya mencapai sekitar 10 km.
“Rerata jarak pandang saat ini berada di 7 kilometer. Normalnya biasanya 10 kilometer,” ungkapnya.

Yang menjadi perhatian, lanjut dia, bukan hanya kualitas udara, tetapi juga tingkat kemudahan terbakar di lapisan atas permukaan tanah. Berdasarkan pemantauan BMKG, kondisi di kabupaten/kota se-Kaltara saat ini masuk kategori zona merah atau very high, yang berarti material permukaan sangat mudah terbakar.
“Sekarang ini untuk tingkat kemudahan terbakar di lapisan atas permukaan tanah di kabupaten/kota di Kaltara masuk dalam kategori zona merah, very high atau sangat mudah terbakar,” tegasnya.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko munculnya titik api, terutama apabila terdapat aktivitas pembakaran lahan di tengah kondisi cuaca kering. Karena itu, masyarakat dan pelaku usaha diminta meningkatkan kewaspadaan serta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Farid menegaskan kondisi kering tidak berarti seluruh wilayah akan mengalami kebakaran, tetapi tingkat kerawanan meningkat ketika sumber api muncul.
“Dengan kondisi curah hujan yang masih rendah dan tingkat kemudahan terbakar yang tinggi, potensi karhutla perlu diantisipasi sejak dini,” pungkasnya. (jai)

Editor : Azward Halim
BMKG Tanjung Harapan Karhutla Kaltara kualitas udara bulungan