TANJUNG SELOR – Masyarakat Kecamatan Sembakung, Nunukan yang tergabung dalam Diaspora Sembakung menggelar tradisi Tulak Bala Sapu Arba di Landmark Tanjung Selor, Rabu (12/8) pagi. Kegiatan tersebut diisi doa bersama sebagai ikhtiar memohon keselamatan dan perlindungan dari berbagai bencana sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi masyarakat Sembakung.
Salah seorang warga Sembakung, Asnawi Arbain mengatakan, Tulak Bala Sapu Arba merupakan tradisi yang dimaknai sebagai upaya menolak bala atau memohon agar berbagai musibah dijauhkan dari masyarakat.
“Tulak Bala itu artinya menolak bala. Jadi kita berdoa agar bencana yang datang itu tidak datang kepada kita,” kata Asnawi kepada Radar Kaltara, Rabu (12/8).
Dia menjelaskan, istilah Sapu Arba merujuk pada Rabu terakhir di bulan Safar. Pelaksanaan tahun ini bertepatan dengan 28 Safar 1448 Hijriah. “Sapu Arba itu artinya Rabu terakhir bulan Safar. 28 Safar 1448 Hijriah merupakan Rabu terakhir di bulan Safar tahun ini,” ungkapnya.
Menurut Asnawi, kegiatan Tulak Bala Sapu Arba yang digelar Diaspora Sembakung di Tanjung Selor telah memasuki tahun keenam. Tradisi tersebut menjadi ruang berkumpul sekaligus mempererat silaturahmi warga Sembakung yang berada di Tanjung Selor.
“Diaspora Sembakung sudah enam tahun menggelar Tulak Bala Sapu Arba,” ungkapnya.
Dalam pelaksanaannya, tradisi Tulak Bala Sapu Arba di Sembakung biasanya memiliki sejumlah rangkaian. Setelah berkumpul dan berdoa, kegiatan dilanjutkan dengan Mandi Salamun. Namun, rangkaian tersebut tidak dilakukan dalam pelaksanaan di Tanjung Selor.
“Kalau mengikuti tradisi yang ada, kita berkumpul dan berdoa kemudian dilanjutkan dengan Mandi Salamun. Tetapi untuk di Tanjung Selor tidak kita laksanakan,” jelas Asnawi.
Tak hanya berdoa untuk keselamatan, warga Sembakung di Tanjung Selor turut menyelipkan harapan agar pembangunan infrastruktur yang menghubungkan wilayah mereka segera terealisasi. Salah satunya akses jalan Sembakung–Kabupaten Tana Tidung (KTT) yang dinilai penting bagi mobilitas dan konektivitas masyarakat. “Kami juga mendoakan agar Jalan Sembakung–KTT dapat segera terealisasi. Kami berharap warga Sembakung di Tanjung Selor bisa ikut mendukung,” ujarnya.
Selain doa bersama, masyarakat juga mempertahankan tradisi makan bersama dengan cara saling bertukar makanan. Menurut Asnawi, tradisi tersebut menjadi bagian dari nilai kebersamaan yang ingin terus dipertahankan.
“Makanan yang disajikan dimakan dengan cara saling bertukar makanan. Itu bagian dari tradisi dan kebersamaan masyarakat,” tuturnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat dan ketua adat. Asnawi menyebut keterlibatan berbagai unsur masyarakat menunjukkan bahwa tradisi tersebut tidak hanya menjadi kegiatan internal warga Sembakung, tetapi juga menjadi ruang memperkenalkan budaya kepada masyarakat luas.
“Selain warga Sembakung di Tanjung Selor, kegiatan ini juga dihadiri beberapa pejabat dan beberapa ketua adat,” katanya.
Asnawi mengungkapkan, Diaspora Sembakung sebelumnya juga pernah menyampaikan usulan kepada Bupati Bulungan Syarwani agar Tulak Bala Sapu Arba dapat dikembangkan menjadi event budaya tingkat kabupaten. Konsepnya, kegiatan tersebut dapat digelar di kawasan bantaran Sungai Kayan.
“Kita berharap Tulak Bala Sapu Arba ini bisa menjadi event kabupaten di bantaran Sungai Kayan dan usulan itu dapat direalisasikan,” harapnya.
Dia menambahkan, tradisi tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan menjadi sarana bagi masyarakat untuk memanjatkan doa keselamatan bagi Kaltara.
“Kita berharap Kaltara selamat dari bencana, dianugerahkan Allah kesejahteraan, masyarakatnya damai dan aman, serta jauh dari bencana alam yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat,” ujarnya.
Di sisi lain, pelaksanaan Tulak Bala Sapu Arba juga diharapkan menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya agar tidak terputus di tengah perkembangan zaman. Pengenalan tradisi kepada generasi muda dinilai penting agar nilai-nilai kebersamaan dan budaya masyarakat Sembakung tetap hidup.
“Kegiatan ini juga menjadi upaya pelestarian budaya bagi generasi muda,” pungkasnya. (jai)