Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Bupati Bulungan Tegaskan Tak Ada Diskriminasi bagi ABK, Bulungan Perkuat Pendidikan Inklusi Sejak Usia Dini

Fijai RT • Senin, 8 Juni 2026 | 10:32 WIB
PENYERAHAN: Bunda PAUD Bulungan, Sri Handayani menyerahkan secara kartu penyandang disabilitas bagi anak usia PAUD. FOTO: RADAR TARAKAN
PENYERAHAN: Bunda PAUD Bulungan, Sri Handayani menyerahkan secara kartu penyandang disabilitas bagi anak usia PAUD. FOTO: RADAR TARAKAN

TANJUNG SELOR - Pemkab Bulungan terus memperkuat komitmen mewujudkan pendidikan yang inklusif dan ramah anak. Melalui kelompok kerja (pokja) Bunda PAUD Bulungan, digelar  peningkatan kompetensi guru dan orang tua dalam penyelenggaraan pendidikan inklusi tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) dengan fokus pada penguatan kapasitas pendidik dan keluarga dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus (ABK).

Bupati Bulungan Syarwani menegaskan, tidak boleh ada perlakuan diskriminatif terhadap peserta didik di lingkungan sekolah, termasuk kepada ABK yang memiliki hak yang sama untuk memperoleh layanan pendidikan yang layak.
"Saya berpesan agar tidak ada diskriminasi terhadap anak-anak didik kita, termasuk anak berkebutuhan khusus. Semua anak berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar, tumbuh, dan berkembang sesuai potensi yang dimiliki," kata Syarwani kepada Radar Kaltara, Minggu (7/6).

Menurutnya, pendidikan inklusi pada jenjang PAUD saat ini bukan lagi sekadar program pelengkap, melainkan kebutuhan mendesak yang harus menjadi perhatian seluruh pemangku kepentingan. Pasalnya, usia 0 hingga 6 tahun merupakan masa emas atau golden age perkembangan otak anak yang sangat menentukan kualitas kehidupannya di masa depan.
"Kesalahan dalam deteksi dini maupun pemberian stimulasi kepada anak berkebutuhan khusus dapat berdampak jangka panjang bahkan permanen. Karena itu, penanganan sejak usia dini menjadi sangat penting," ujarnya.

Syarwani menilai peningkatan kapasitas guru dan orang tua merupakan langkah strategis yang tidak bisa ditunda. Sebab, keberhasilan pendidikan inklusi tidak hanya bergantung pada sekolah, tetapi juga membutuhkan dukungan penuh dari keluarga sebagai lingkungan utama tumbuh kembang anak. 
"Masih ditemukan orang tua yang berada pada fase penolakan (denial) sehingga belum siap menerima kondisi anaknya," bebernya.

"Kondisi ini sering menimbulkan kesenjangan stimulasi. Apa yang dilakukan guru di sekolah tidak selalu berlanjut di rumah karena kurangnya pemahaman orang tua terhadap kebutuhan anak," sambungnya.

Karena itu, pendekatan kolaboratif yang mempertemukan guru dan orang tua dinilai menjadi solusi efektif. Selain menyamakan metode pengasuhan dan pembelajaran, pola tersebut juga membangun komunikasi yang sehat antara sekolah dan keluarga sehingga tidak terjadi saling menyalahkan dalam proses pendampingan anak.

Sementara itu, Bunda PAUD Bulungan, Sri Handayani dalam kesempatan tersebut menyerahkan secara simbolis Kartu Penyandang Disabilitas bagi anak usia PAUD. Kartu tersebut akan memberikan sejumlah kemudahan dan fasilitas khusus bagi pemegangnya.
"Kartu ini nantinya dapat dimanfaatkan untuk memperoleh berbagai konsesi, seperti diskon UMKM, tiket speedboat, hingga layanan hotel yang bekerja sama," ujarnya.

Ia menambahkan, program tersebut merupakan bentuk kepedulian pemerintah daerah terhadap anak-anak penyandang disabilitas sekaligus upaya menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan ramah bagi seluruh lapisan masyarakat. 
"Investasi peningkatan kapasitas pada fase PAUD merupakan langkah preventif jangka panjang untuk mencegah munculnya disabilitas sekunder, seperti gangguan perilaku maupun masalah kesehatan mental yang lebih kompleks saat anak memasuki usia remaja," bebernya.

Dengan sinergi yang kuat antar guru dan orang tua, ABK diharapkan mampu tumbuh lebih mandiri, percaya diri, serta memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan pendidikan.
"Pendidikan inklusi adalah investasi masa depan. Ketika guru dan orang tua memiliki pemahaman yang sama, anak-anak berkebutuhan khusus akan tumbuh lebih optimal dan siap menjadi bagian dari masyarakat yang inklusif," pungkasnya. (jai/lim)

Editor : Azward Halim
#bulungan