TANJUNG SELOR - BMKG mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem dalam sepekan ke depan. Pasalnya, wilayah Kaltara masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang.
Kepala Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi mengungkapkan, berdasarkan data pengamatan periode 2–5 April 2026, hujan dengan intensitas ringan hingga sangat lebat terjadi di berbagai wilayah Indonesia. “Curah hujan sangat lebat terpantau di Bengkulu mencapai 199,7 mm per hari, disusul Jawa Barat dan Aceh,” kata Sulam kepada Radar Kaltara, Kamis (9/4).
Ia menjelaskan, kondisi tersebut dipengaruhi oleh masih aktifnya dinamika atmosfer seperti gelombang Rossby ekuatorial, Kelvin, hingga Mixed Rossby-Gravity (MRG) serta fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO).
“Selain itu, masa peralihan dari Monsun Asia ke Monsun Australia turut membentuk pola sirkulasi udara yang memicu pertumbuhan awan hujan,” ungkapnya.
Menurutnya, faktor lokal seperti pemanasan permukaan dan perlambatan angin juga memperkuat potensi hujan. “Kondisi ini mendukung terbentuknya awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan lebat disertai kilat dan angin kencang,” tegasnya.
Dalam prakiraan 7-9 April 2026, BMKG mencatat sebagian besar wilayah Indonesia berpotensi diguyur hujan ringan hingga lebat. “Sejumlah wilayah masuk kategori siaga hujan lebat hingga sangat lebat, termasuk beberapa daerah di Kalimantan,” ungkapnya.
Sementara pada periode 10–13 April 2026, hujan diperkirakan masih terjadi dengan intensitas ringan hingga sedang, namun tetap berpotensi meningkat di sejumlah wilayah.
“Beberapa daerah bahkan masih berstatus siaga terhadap hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang,” katanya.
Meski fenomena El Nino–Southern Oscillation (ENSO) dan Dipole Mode Index (DMI) berada pada fase netral, Khilmi menegaskan dinamika atmosfer lain tetap berpengaruh.
“Monsun Australia mulai menguat, tetapi aktivitas gelombang atmosfer masih cukup dominan memicu hujan di berbagai wilayah,” jelasnya.
BMKG juga mencatat adanya potensi pembentukan sirkulasi siklonik di sejumlah perairan yang dapat memperkuat pertumbuhan awan hujan. “Sirkulasi ini membentuk daerah konvergensi yang meningkatkan peluang hujan, terutama di wilayah terdampak,” tambahnya.
Ia mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi. “Masyarakat perlu mengantisipasi banjir, genangan, hingga pohon tumbang akibat hujan lebat dan angin kencang,” ujarnya.
Selain itu, pengguna jalan diminta lebih berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan. “Hindari berteduh di bawah pohon atau papan reklame saat hujan disertai angin dan petir serta batasi aktivitas di ruang terbuka,” pungkasnya. (jai/lim)
Editor : Azward Halim