Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

BMKG Peringatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Kaltara, Hujan Lebat Masih Berpeluang Terjadi

Fijai RT • Selasa, 10 Maret 2026 | 04:52 WIB

Muhammad Sulam Khilmi, Kepala Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan.
Muhammad Sulam Khilmi, Kepala Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan.
TANJUNG SELOR – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sejumlah wilayah di Indonesia mengalami hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem pada periode Februari hingga Maret 2026. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai dinamika atmosfer yang masih aktif dan berpotensi memicu peningkatan curah hujan di sejumlah daerah dalam beberapa hari ke depan.

Kepala Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi mengatakan, hujan dengan intensitas ekstrem tercatat terjadi di wilayah Papua Barat dengan curah hujan mencapai 133,2 milimeter (mm) per hari. Selain itu, hujan dengan intensitas lebat juga terpantau di beberapa daerah lain di Indonesia.
“Selain di Papua Barat, hujan dengan intensitas lebat juga tercatat di Yogyakarta sebesar 79,6 mm per hari, Surabaya 71,2 mm per hari, serta Maluku Utara sebesar 57,8 mm per hari,” kata Sulam kepada Radar Kaltara, Senin (9/3).

Ia menjelaskan, selama periode tersebut hujan dengan intensitas ringan hingga sedang juga terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia dengan jumlah curah hujan yang bervariasi. Peningkatan intensitas hujan tersebut dipengaruhi oleh kombinasi dinamika atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan hujan.
“Peningkatan curah hujan dipicu oleh beberapa faktor, di antaranya keberadaan Bibit Siklon Tropis 90S, pertemuan angin monsun dari utara dengan angin baratan dari Samudra Hindia di wilayah selatan Indonesia, serta aktifnya Madden-Julian Oscillation,” jelasnya.

Selain itu, aktivitas gelombang atmosfer seperti Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby juga terpantau aktif di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut turut berkontribusi terhadap peningkatan pembentukan awan hujan di berbagai daerah di Indonesia. BMKG memprakirakan dalam sepekan ke depan sejumlah fenomena atmosfer, baik pada skala global, regional maupun lokal, masih berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap kondisi cuaca di Indonesia.
“Pada skala global, fenomena La Niña dengan kategori lemah masih terdeteksi dari nilai Nino 3.4 yang disertai nilai SOI signifikan. Kondisi ini berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan, terutama di wilayah Indonesia bagian timur,” ungkapnya.

Di sisi lain, Bibit Siklon Tropis 90S diprakirakan berada di Samudra Hindia selatan Jawa Tengah, sementara beberapa sistem tekanan rendah diprediksi terbentuk di Samudra Pasifik utara Papua, Teluk Carpentaria serta di pesisir barat laut Australia.
“Keberadaan sistem tekanan rendah tersebut membentuk daerah konvergensi dan konfluensi yang dapat mendukung pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah tersebut,” katanya.

BMKG juga memperkirakan fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) masih akan mempengaruhi kondisi atmosfer Indonesia dalam beberapa hari ke depan. Aktivitas MJO diprediksi berada pada fase 5 di wilayah Maritime Continent hingga fase 6 di wilayah Western Pacific.
“Kombinasi MJO dengan gelombang atmosfer diprakirakan aktif di wilayah Laut Cina Selatan, Samudra Hindia barat daya Lampung hingga NTT, Bali, NTB, NTT, pesisir selatan Jawa, serta perairan utara Bali hingga NTT,” jelasnya.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan curah hujan di sejumlah wilayah tersebut. Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi.
“Kami mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk tetap waspada terhadap potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar memperhatikan kondisi cuaca sebelum melakukan aktivitas, terutama perjalanan darat, laut, dan udara maupun kegiatan luar ruangan seperti ibadah dan wisata.
“Langkah-langkah antisipatif perlu dilakukan di lingkungan sekitar guna meminimalkan potensi dampak cuaca ekstrem,” pungkasnya. (jai/lim)

Editor : Azward Halim