Kepala Disperta Bulungan, Kristiyanto, menegaskan identifikasi ini menjadi langkah awal agar program tidak salah sasaran dan benar-benar sesuai dengan karakteristik wilayah. “Kegiatan ini untuk memastikan kesiapan calon petani dan kelayakan lahan, sehingga pengembangan kelapa sawit dan kelapa bisa berjalan terarah dan sesuai potensi wilayah,” kata Kristiyanto, Rabu (4/3).
Tim Disperta turun langsung ke lapangan untuk meninjau kondisi fisik lahan. Pengamatan dilakukan terhadap kesesuaian agroklimat, aksesibilitas, hingga dukungan infrastruktur dasar yang menunjang aktivitas perkebunan.
“Kami melakukan pengecekan langsung kondisi lahan, melihat kesesuaian agroklimat, sekaligus berdiskusi dengan masyarakat terkait rencana pengembangan tanaman perkebunan yang berkelanjutan,” jelasnya.
Tak hanya soal teknis lahan, pendekatan sosial juga menjadi perhatian. Dialog dilakukan untuk menyerap aspirasi sekaligus memastikan komitmen petani yang akan terlibat sebagai pelaku utama program. “Kami ingin program ini berbasis kebutuhan riil masyarakat dan didukung penuh oleh petani sebagai pelaku utama,” tegasnya.
Menurut Kristiyanto, pemetaan CPCL menjadi instrumen penting untuk menyusun perencanaan yang lebih presisi, mulai dari luasan tanam, pola pengelolaan, hingga proyeksi hasil produksi.
Ia berharap, pendataan ini dapat menjadi pintu masuk peningkatan produktivitas sektor perkebunan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa, khususnya di Tanah Kuning dan Mangkupadi. “Dengan pemetaan yang matang dan data yang akurat, kami optimistis program pengembangan perkebunan di wilayah tersebut dapat berjalan lebih terarah, tepat sasaran serta memberikan manfaat nyata bagi pertumbuhan ekonomi desa dalam jangka panjang,” pungkasnya. (jai/lim)
Editor : Azward Halim