Bupati Bulungan, Syarwani mengatakan, penurunan tersebut menjadi indikator penting atas penguatan intervensi lintas sektor yang selama ini berjalan.
“Prevalensi stunting di Bulungan dari 2021 sampai 2024 menunjukkan tren penurunan,” kata Iwan kepada Radar Kaltara, Rabu (4/2).
Iwan memaparkan, berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, prevalensi stunting Bulungan berada di angka 22,90 persen.
“Pada 2021, prevalensi stunting berdasarkan SSGI tercatat 22,90 persen,” ungkapnya.
Kemudian, 2022 prevalensi stunting Bulungan turun menjadi 18,90 persen.
Namun pada 2023, prevalensi stunting kembali meningkat menjadi 22,60 persen berdasarkan survei kesehatan Indonesia (SKI).
“Tahun 2023 berdasarkan SKI memang meningkat menjadi 22,60 persen,” ungkapnya.
Meski begitu, pada 2024 angka stunting kembali turun menjadi 15,90 persen berdasarkan data SSGI. Selain prevalensi tingkat kabupaten, Syarwani memaparkan data stunting balita usia 0-59 bulan berdasarkan rekap per kecamatan di Bulungan yang menunjukkan dinamika dari tahun ke tahun.
“Kalau dilihat dari data balita 0-59 bulan per kecamatan, jumlahnya juga mengalami perubahan,” ujarnya.
Pada 2022, jumlah balita stunting tercatat 889 balita atau 12,87 persen.
Kemudian pada 2023, angka tersebut turun menjadi 641 balita atau 8,68 persen.
“Pada 2023 turun menjadi 641 balita atau 8,68 persen,” lanjutnya.
Pada 2024, jumlah balita stunting tercatat 719 anak atau 8,24 persen. Sementara 2025, angka stunting balita kembali naik menjadi 845 anak atau 11,25 persen.
Ia menegaskan, fluktuasi data tersebut menjadi perhatian serius karena penanganan stunting membutuhkan konsistensi, terutama pada upaya pencegahan sejak masa kehamilan hingga balita.
“Kenaikan di 2025 ini harus menjadi perhatian, karena penanganan stunting harus konsisten dan berkelanjutan,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa penurunan stunting tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan, melainkan perlu dukungan program lintas perangkat daerah, termasuk penguatan ketahanan pangan keluarga, sanitasi, serta akses air bersih.
“Stunting ini tidak bisa ditangani oleh satu sektor saja, tetapi harus lintas sektor,” pungkasnya. (jai/lim)