TANJUNG SELOR – Badan Pusat Statistik (BPS) Bulungan mencatat perkembangan harga berbagai komoditas pada Januari 2026 secara umum mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi tersebut mendorong terjadinya inflasi tahunan year on year (yoy) sebesar 4,12 persen.
Kepala BPS Bulungan Yuda Agus Irianto mengatakan, inflasi yoy tersebut tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 103,52 pada Januari 2025 menjadi 107,79 pada Januari 2026.
“Pada Januari 2026 terjadi inflasi y-on-y sebesar 4,12 persen, atau terjadi kenaikan IHK dari 103,52 menjadi 107,79,” kata Yuda kepada Radar Kaltara,Senin (2/2).
Sementara itu, BPS mencatat tingkat inflasi month to month (mtm) dan year to date (ytd) pada Januari 2026 masing-masing sebesar -0,43 persen.
“Tingkat inflasi m-to-m dan y-to-d masing-masing tercatat minus 0,43 persen,” ungkapnya.
Yuda menjelaskan, inflasi yoy terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh meningkatnya sejumlah indeks kelompok pengeluaran. Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 21,57 persen.
“Kenaikan indeks juga terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 10,31 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 1,39 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,51 persen, kelompok pendidikan sebesar 0,46 persen, serta kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,37 persen,” paparnya.
Di sisi lain, terdapat sejumlah kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks. Di antarnya kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga yang turun 3,71 persen, serta kelompok transportasi yang mengalami penurunan 2,23 persen.
“Kelompok lain yang mengalami penurunan indeks yakni rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,22 persen, kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,83 persen, serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,18 persen,” ungkapnya.
Ia menambahkan, komoditas yang dominan memberikan andil inflasi yoy pada Januari 2026 antara lain tarif listrik, tarif air minum PAM, emas perhiasan, sewa rumah, beras, ikan bandeng, bakso siap santap, ikan layang, tomat, dan ikan kembung.
“Sementara komoditas yang memberikan andil deflasi yoy di antarnya angkutan udara, daging ayam ras, cabai rawit, bawang putih, bawang merah, kangkung, bayam, jagung manis, kulkas, dan sabun deterjen bubuk,” jelasnya.
Untuk inflasi mtm, Yuda menyebutkan komoditas yang dominan menyumbang kenaikan harga antara lain emas perhiasan, sewa rumah, cabai rawit, kopi bubuk, ikan kakap merah, jagung manis, sawi hijau, ikan patin, cabai merah dan hand body lotion.
“Sedangkan komoditas yang memberikan andil deflasi m-to-m di antaranya bawang merah, ikan bandeng, daging ayam ras, ikan tongkol, bayam, bawang putih, tomat, biaya akademi atau perguruan tinggi, serta ikan kembung,” katanya.
Lebih lanjut, Yuda memaparkan kelompok pengeluaran yang memberikan andil inflasi y-on-y terbesar berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 4,09 persen.
“Kelompok lain yang menyumbang inflasi yoy yakni perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,69 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,09 persen, pakaian dan alas kaki sebesar 0,02 persen, serta kesehatan dan pendidikan masing-masing sebesar 0,01 persen,” ungkapnya.
Sementara kelompok pengeluaran yang memberikan andil deflasi yoy berasal dari kelompok transportasi sebesar 0,32 persen, diikuti kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,26 persen.
“Kelompok perlengkapan rumah tangga juga menyumbang deflasi sebesar 0,19 persen, serta kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan masing-masing sebesar 0,01 persen,” pungkasnya. (jai/lim)