Bupati Bulungan, Syarwani mengungkapkan, sebelumnya Pemda Bulungan telah menyalurkan sebanyak 30 ribu bibit kakao kepada petani di Desa Antutan, Kecamatan Tanjung Palas, Bulungan.
“Kami sudah menyalurkan sekitar 30 ribu bibit kakao kepada petani Desa Antutan sebagai langkah konkret mendorong pengembangan komoditas kakao secara berkelanjutan,” kata Syarwani kepada Radar Kaltara, Jumat (30/1).
Saat ini, sambung Syarwani, kakao Antutan sudah diolah dalam skala industri rumahan dan menghasilkan produk cokelat lokal.
“Alhamdulillah, saat ini kakao Antutan sudah diproduksi dalam skala home industri dan kami berharap produksinya bisa terus berjalan serta berkembang,” katanya.
Syarwani mengungkapkan, Pemd Bulungan juga membuka akses pasar nasional untuk produk lokal. Bahkan, ia mengaku telah melakukan komunikasi langsung dengan Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk mempersiapkan peluncuran puluhan produk unggulan daerah.
“Saya sudah berkomunikasi dengan Menteri UMKM untuk meluncurkan sekitar 70 produk lokal yang telah melalui proses kurasi, dan salah satunya adalah produk cokelat Antutan,” jelasnya.
Menurutnya, produk tersebut direncanakan akan dipajang di Mal Sarinah Jakarta, sebagai etalase nasional produk unggulan daerah.
“Produk lokal Bulungan nantinya akan dipajang di Mal Sarinah agar tidak hanya dinikmati di tingkat lokal, tetapi juga bisa dikenal dan diterima secara nasional,” tegasnya.
Peluncuran produk ditargetkan dilakukan setelah Lebaran, seiring dengan kesiapan kurasi dan produksi.
“Kami menargetkan peluncuran dilakukan pasca Lebaran, setelah seluruh tahapan persiapan benar-benar matang,” ujarnya.
Lebih jauh, Syarwani berharap pengembangan kakao tidak berhenti pada penyaluran bibit semata, tetapi terus diperluas dari sisi luasan tanam dan hilirisasi produk.
“Kami berharap luas tanam kakao dapat terus ditingkatkan agar pengembangannya berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan petani,” katanya.
Ke depan, Pemkab Bulungan juga mendorong peningkatan kapasitas produksi cokelat agar memiliki nilai tambah lebih tinggi.
“Tidak menutup kemungkinan kapasitas produksi akan ditingkatkan, tidak hanya dalam bentuk biji kering atau bubuk, tetapi juga produk olahan cokelat yang bisa langsung dinikmati masyarakat,” pungkasnya. (jai/lim)