Kepada Radar Kaltara, Syarwani mengatakan, berdasarkan hasil evaluasi lapangan yang dilakukannya sejak awal masa kepemimpinan hingga kunjungan langsung ke kecamatan dan desa.
“Evaluasi yang saya dapatkan ketika pertama melakukan kunjungan ke kecamatan hingga desa, sebagian besar aspirasi masyarakat memang berbicara soal infrastruktur,” kata Syarwani kepada Radar Kaltara, Senin (19/1).
Menurutnya, kebutuhan infrastruktur di Bulungan sangat vital karena berpengaruh langsung terhadap pergerakan ekonomi, konektivitas wilayah dan akses pelayanan publik.
“Infrastruktur ini mampu menggerakkan perekonomian dan mobilitas masyarakat kita yang masih cukup panjang PR-nya untuk dibenahi,” tegasnya.
Namun demikian, Syarwani menekankan bahwa evaluasi pembangunan tidak bisa dilakukan secara parsial. Ia menyebut setidaknya ada dua aspek utama yang harus menjadi perhatian Pemda Bulungan.
“Kalau kita evaluasi secara menyeluruh, ada dua hal, yaitu dari sisi perencanaan dan dari sisi eksekusi atau pelaksanaan anggaran,” jelasnya.
Dalam aspek perencanaan, Pemda Bulungan, kata Syarwani, memastikan prinsip transparansi dan partisipasi publik tetap menjadi pijakan utama.
“Dalam penyusunan anggaran setiap tahun, kita melibatkan masyarakat melalui Musrenbang yang berjenjang dari desa, kecamatan, hingga kabupaten,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Pemda Bulungan juga memperluas ruang partisipasi melalui Musrenbang inklusif. “Kita tidak berhenti di Musrenbang normatif, tapi juga melaksanakan Musrenbang inklusif untuk memastikan kelompok berkebutuhan khusus terlibat,” katanya.
Bahkan, kelompok anak turut diberikan ruang menyampaikan aspirasi pembangunan. “Di Bulungan ada Forum Anak Daerah, sehingga pembangunan tidak hanya dilihat dari perspektif orang dewasa atau pemerintah, tetapi juga dari sudut pandang anak-anak,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa keterlibatan anak dan penyandang disabilitas menjadi bagian penting dalam menjamin perlindungan dan kesempatan yang setara.
“Kita ingin memastikan bagaimana jaminan perlindungan anak dan ruang kesempatan bagi penyandang disabilitas benar-benar diperhatikan,” tambahnya.
Sementara dari sisi pelaksanaan anggaran, Syarwani menekankan pentingnya semangat kebersamaan lintas etnis dan agama yang telah lama tumbuh di Bulungan.
“Bulungan ini sangat Indonesia, beragam suku, agama, dan budaya hidup berdampingan dan itu menjadi kekuatan kita,” ujarnya.
Ia menyebut filosofi lokal Tenguyun sebagai spirit utama pembangunan daerah. “Tenguyun itu artinya bersatu dan kompak, sejalan dengan nilai Pancasila, persatuan Indonesia,” katanya.
Lebih lanjut, Syarwani menegaskan bahwa pembangunan Bulungan sejak awal dirancang dengan pendekatan pentahelix. “Kita melibatkan media, perguruan tinggi, pelaku usaha, mitra strategis, hingga komunitas masyarakat dalam pembangunan,” ungkapnya.
Keterlibatan dunia usaha juga dilakukan secara terstruktur melalui forum tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). “Setiap tahun ada forum CSR untuk menyinkronkan program pembangunan daerah dengan program CSR pelaku usaha di Bulungan,” jelasnya.
Ia menegaskan komitmen Pemda Bulungan untuk tetap terbuka dan inklusif. “Pemerintah daerah tidak eksklusif, sangat inklusif dan terbuka bagi seluruh masyarakat tanpa melihat suku, agama, maupun usia,” pungkasnya. (jai/lim)
Editor : Azward Halim