Bagaimana tidak, banjir yang terjadi saat itu tercatat sebagai banjir terbesar yang terjadi di pemukiman penduduk yang ada di sekitar bantaran Sungai Kayan, mulai dari Kecamatan Peso hingga Tanjung Selor dan Tanjung Palas.
Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Provinsi (Setprov) Kaltara, Datu Iqro Ramadhan mengatakan, banjir besar yang terjadi di tahun 2015 itu harus menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat.
“Saat ini Kaltara memiliki potensi ancaman hidrometeorologi basah. Yang paling berpotensi terjadi itu banjir. Pengalaman kita di 2015 itu pernah terjadi banjir besar hampir seminggu,” ujar Datu Iqro kepada Radar Tarakan, Ahad (11/1).
Pada saat ini, lanjut Datu Iqro, sangat banyak warga yang mengungsi ke Gedung Wanita, Tanjung Selor yang saat itu dijadikan dapur pengungsian oleh pemerintah daerah.
“Ini harus jadi pelajaran kita. Jangan sampai ketika banjir besar seperti tahun 2015 itu terulang lagi, kita tidak siap. Makanya sejak dini kita terus memperkuat dan meningkatkan kesiapsiagaan petugas di lapangan,” tegasnya.
Selain banjir, tanah longsor juga berpotensi terjadi di provinsi ke-34 Indonesia ini, khususnya di Kota Tarakan.
“Untuk tanah longsor itu potensi terjadi yang paling tinggi di Tarakan. Dan baru-baru ini juga ada terjadi di wilayah Tana Tidung,” tuturnya.
Pastinya, berbagai upaya terus dilakukan sebagai bentuk kesiapsiagaan. Setidaknya, jika terjadi bencana, petugas di lapangan sudah siap beserta peralatan yang dibutuhkan untuk melakukan penanganan terhadap bencana tersebut. (iwk/lim)
Editor : Azward Halim