Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Kaltara di Fase Penting Pembangunan, Gubernur Zainal Minta Sekprov Mampu Jadi Motor Penggerak

Iwan RT • Minggu, 21 Desember 2025 | 18:54 WIB

Gubernur Kaltara, Dr. H. Zainal Arifin Paliwang, S.H, M.Hum, saat memberikan arahan kepada ASN di lingkungan Pemprov Kaltara.
Gubernur Kaltara, Dr. H. Zainal Arifin Paliwang, S.H, M.Hum, saat memberikan arahan kepada ASN di lingkungan Pemprov Kaltara.
TANJUNG SELOR – Kalimantan Utara (Kaltara) merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki potensi yang sangat besar.

Namun, saat ini Kaltara sedang berada di fase penting pembangunan, mulai dari membangun infrastruktur, menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, memperkuat ekonomi daerah, hingga menjaga kelestarian alam.

“Tentu semua ini membutuhkan birokrasi yang solid, responsif dan adaptif terhadap perubahan zaman,” ujar Gubernur, Dr. H. Zainal Arifin Paliwang, S.H, M.Hum, kepada Radar Tarakan saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu.

Untuk itu, mantan Wakapolda Kaltara ini meminta kepada Sekretaris Provinsi (Sekprov) Kaltara yang baru dilantik mampu menjadi motor penggerak bagi kemajuan provinsi ke-34 Indonesia ini.

Banyak hal yang menjadi atensi untuk disikapi di Kaltara, mulai dari sisi reformasi birokrasi, memperkuat sistem pemerintahan digital, mendorong efisiensi anggaran, hingga memastikan setiap program pemerintah berpihak pada rakyat.

“Terutama masyarakat yang ada di daerah terpencil, perbatasan dan pesisir yang menjadi identitas Kalimantan Utara,” tegasnya.

Untuk itu, Gubernur Zainal mengingatkan kepada seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara agar dapat menjalankan tugas dan kewajibannya sesuai dengan apa yang sudah tertuang dalam peraturan perundangan.

“Ingat, jabatan boleh tinggi, tapi tanggung jawabnya lebih tinggi. Amanah ini bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang kepercayaan dan pengabdian. Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat berapa lama seseorang menjabat, tapi apa yang telah ia perbuat selama menjabat,” pungkasnya. (iwk/lim)

Editor : Azward Halim