Bupati Bulungan, Syarwani mengatakan, program satu desa satu sarjana dirancang sebagai investasi jangka panjang untuk menyiapkan generasi unggul dan berdaya saing.
“Di Bulungan terdapat 74 desa dan 7 kelurahan. Tahun 2026 kita tetapkan setiap desa dan kelurahan minimal memiliki satu sarjana dan itu dibiayai melalui APBD,” kata Syarwani kepada Radar Kaltara, Rabu (17/12).
Ia menjelaskan, Pemda Bulungan telah menyiapkan skema kerja sama dengan Universitas Kaltara (Unikaltar) sebagai mitra pelaksana program tersebut.
"Kami sengaja memilih untuk memberdayakan perguruan tinggi lokal ketimbang mengirim mahasiswa ke luar daerah," ungkapnya
Apalagi, Unikaltar ini dilahirkan oleh Pemda Bulungan. Karena itu, secara moral pemerintah memiliki tanggung jawab untuk membesarkan perguruan tinggi tersebut.
“Secara moral, saya selaku kepala daerah bertanggung jawab membesarkan Universitas Kaltara, karena rektor dan dosennya adalah anak-anak muda Bulungan,” jelasnya.
Nantinya, langkah ini akan dijalankan melalui sinergi dan kolaborasi lintas sektor dengan pendekatan program Madya yang berorientasi pada pembangunan desa.
“Kita tinggal membangun sinergi dan kolaborasi melalui program madya agar keberadaan sarjana benar-benar berdampak bagi desa,” katanya.
Syarwani menargetkan, dalam empat tahun ke depan seluruh desa dan kelurahan di Bulungan telah memiliki sarjana pendamping pembangunan.
“Target kita empat tahun ke depan, 81 orang sarjana itu ada di Kabupaten Bulungan. Satu desa, satu sarjana,” tegasnya.
Ia menilai program ini menjadi fondasi penting bagi masa depan daerah. Pasalnya, mereka merupakan masa depan Bulungan.
"Kalau kita bicara masa depan generasi berikutnya, maka kita harus menciptakan generasi yang berkualitas mulai hari ini,” ucapnya.
Namun demikian, Syarwani mengakui pembangunan SDM menghadapi tantangan besar, terutama dalam menyesuaikan pendekatan dengan karakter generasi muda saat ini.
“Tantangannya adalah bagaimana kita menyesuaikan dengan mindset dan era generasi hari ini,” ujarnya.
Karena itu, ia menegaskan pola pembangunan SDM tidak bisa lagi menggunakan pendekatan lama.
“Kita tidak bisa lagi membangun kualitas SDM anak muda Bulungan dengan paradigma lama, tetapi harus menyesuaikan dengan kekinian,” pungkasnya. (jai/lim)